Bintang.. (Part 4)

Posted: Agustus 30, 2012 in Cerbung

part 4

Masalah dimulai oleh dua orang anak manusia yang sampai saat ini tidak merasa bersalah atas perbuatannya, kejadian seminggu yang lalu dikelas membuat hancur kelompok sivia dan teman-temannya. Dengan absennya sang ketua di hari latihan mereka, membuat mereka bingung harus menggunakan lagu apa instrumen apa dan lain sebagainya. Sivia yang tidak tau apa yang harus dilakukannya juga bingung, bukannya ia tidak mengerti tentang musik tapi ia merasa bukan ia ketuanya sehingga ia tidak berhak memberi arahan ke teman-temannya. Sebenarnya tidak dibiarkan begitu saja oleh gabriel tetapi, mereka sempat dikasih arahan sehari sewaktu dirumah gabriel itupun gabriel tidak banyak bicara. Sivia dan teman-temannya hanya diberi tau awalnya kemudian mencari tau sendiri kelanjutannya. Arahan itu belum selesai dibuat oleh gabriel baru setengahnya atau mungkin seperempat dari semua yang harus diselesaikan.

“ vi lo kenapa sih? Tampang lo nggak enak banget buat diliat “ tanya rio. Sivia tidak menghiraukannya dia tetap berfikir apa yang harus dia lakukan untuk kelompoknya. “Hei lo kenapa sih?” Tanya rio lagi

“ Gara2 lo berdua nih, gue bingung mau diapain tuh musik “ decak via berdiri meninggalkan kantin.

“ eh vi tunggu dulu, gara2 kami gimana maksud lo? “ kali ini agni yang bertanya sambil menyeimbangi langkah kakinya dengan via. via berhenti sebentar lalu menoleh kearah agni dan rio

“ yang lo bilang didepan anak kelas tentang dia ngantarin gue itu apa?” tanya balik via lalu kembali berjalan menuju kelasnya

“ gara2 itu doang? Dih cupu banget kaya gitu ngambek. kayak masalah apa aja deh lo vi “ ledek rio via mendengus kesal

“ bukan gue tapi gabriel, mario” jawabnya

“ hah? Siapa? “ tanya agni dan rio serentak

“ G-A-B-R-I-E-L “ sivia mengeja nama gabriel untuk memperjelas ucapannya. Rio dan agni heran lalu tertawa mendengar apa yang via ucapkan barusan, via nggak habis fikir apa yang diketawakan oleh kedua sahabatnya ini. Ia menggelengkan kepalanya lalu meninggalkan mereka berdua

‘ bisa-bisanya mereka ketawa kayak gitu, dih yang bener aja ‘ pikir via sambil terus jalan melewati koridor kelas. Ia melewati ruang musik dan entah dapat dorongan apa ia masuk kedalam ruangan musik itu, cari inspirasi mungkin?

Ruang musik saat jam istirahat sangat sepi. lebih banyak siswa yang lebih menyukai pergi ke kantin daripada ke ruang musik atau perpustakaan. Hanya beberapa orang saja yang mau ke perpustakaan, ruang musik pun akan ramai hanya saat jam pelajaran musik. Sivia memandangi gitar yang berada di ruang musik itu. Dari dulu dia ingin sekali bisa memainkan alat musik tersebut, tapi sampai sekarang dia tidak bisa dia hanya bisa memainkan lagu happy birthday dan anak kambing saya itupun sudah lama saat dia duduk di kelas 2 smp. Dia mengambil gitar itu hanya untuk memainkan nya secara asal2an, tapi dia teringat lagi dengan tugasnya. Dia teringat lagi dengan kelompoknya yang hancur belum terselesaikan terlebih lagi dia teringat akan percakapannya dengan 2 orang teman satu kelompoknya
*
“vi, jadi gimana? Kelompok kita belum jelas mau nampilin apa. Ketuanya nggak ada kabar sampai sekarang” tanya aren

“ ya vi, gue nanya2 sama kelompok lain. Mereka udah tau bakal nampilin apa, tunggal latihan aja. Nah kelompok kita? Jangankan latihan bakal nampilin apa aja kita nggak tau. Waktu kita nggak banyak vi” jelas gaby

“huuuuh, gue juga bingung. Gue bukan ketua dan gue gabisa ambil keputusan seenaknya” terang sivia

“ iya juga sih, jadi kita harus gimana?” tanya aren lagi

“ umm vi kalo menurut anak2 kelas iel kayak gt mungkin gara2 yang rio bilang di depan anak2 kalau dia nganterin elo sampe rumah” sivia melihat gaby dengan tatapan menanya “eh? Gamaksud kok vi cerita ke anak2 lain, Cuma mereka nanya kelompok kita yaa gue jawab aja. Maaf deh vi” lanjutnya lagi. Sivia hanya memdesah pelan.

“ entar gue kabarin lagi ya ren, gab. Gue juga bingung, gue mau cari inspirasi dulu siapa tau dapat. Masa odohlah dengan jabatan ketua itu” ucap sivia sambil berlalu pergi
**
“duh kenapa waktu itu gue sampai bilang gitu, gue gangerti apa2. Cari inspirasi? Gue belum bisa nemuinnya sampai sekarang argghhh” geram sivia sambil mengacak rambutnya

Saat sivia mengangkat kepalanya dia kaget ternyata ada orang yang lagi dipikirkannya saat ini. Eh? Dipikirkannya? Maksudnya dalam kelompoknya. Dengan kikuk sivia berdiri dan langsung meninggalkan ruang musik.

*
Gabriel kaget saat mendapati sivia diruang musik, ya sivia orang yang dihindarinya dengan alasan yang ia tidak ketahui. Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, bukan kejadian sih sebetulnya hanya becandaan rio saja mungkin tapi entah kenapa ia tidak menyukai itu. Tapi dia rasa dia udah salah untuk menghindari sivia, mau dihindari bagaimanapun mereka akan tetap ketemu karna satu sekolah satu kelas bahkan satu kelompok dalam tugas musik yang beberapa hari akan diambil nilainya. Ah ya teringat tugas musik, dia sudah lari dari tugasnya hanya gara2 menghindari satu orang. Ini semua salah gadis itu, tidak biasanya dia lari dari tugas apalagi dia menjabat sebagai ketua. Duh bisa2nya dia seperti ini padahal tugas itu akan diambil nilainya sebentar lagi dan seingatnya kelomponya belum diberi arahan apa2, atau apa gadis itu sudah mengambil alih? Syukurlah kalau dia sudah mengambil alih, tapi kalau belum gimana? Inikan sudah tanggung jawab dia.

“ arghhh stop gab, stop mentingin ego lo untuk saat ini. Lupain dulu masalah lo, ini demi kelompok lo. Walaupun didalamnya terdapat gadis itu juga, anggap aja gadis itu tidak ada, yah anggap saja seperti itu” ucapnya pada diri sendiri. Ya dia lebih memilih untuk menganggap sivia tidak ada bagaimana caranya hanya dia yang tau. Gabriel berjalan menuju gitar yang tergeletak di kursi yang tadi diduduki sivia, tangannya gatal untuk memainkan gitar ini, dia menimangnimang gitar itu dia melirik jamnya “masih 15menit lagi sebelum bel masuk pelajaran, mending gue main2 dulu deh” pikirnya

You’re insecure
Don’t know what for
You’re turning heads when you walk through the door
Don’t need make up
To cover up
Being the way that you are is enough

Everyone else in the room can see it
Everyone else but you

[Chorus]
Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But when you smile at the ground it aint hard to tell
You don’t know
Oh Oh
You don’t know you’re beautiful

If only you saw what I can see
You’ll understand why I want you so desperately
Right now I’m looking at you and I can’t believe
You don’t know
Oh oh
You don’t know you’re beautiful
Oh oh
That what makes you beautiful
Dia memilih menyanyikan lagu What Makes You Beautiful milik One Direction, boyband amerika yang lagi buming yang sedang naik daun yang banyak digilai sama teman2 nya. Tanpa gabriel sadari ada yang mencuri dengar suaranya dari balik pintu, orang itu tersenyum senang lalu pergi menuju kelasnya.
So c-come on
You got it wrong
To prove I’m right I put it in a song
I don’t know why
You’re being shy
And turn away when I look into your eyes

Everyone else in the room can see it
Everyone else but you

Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But when you smile at the ground it aint hard to tell
You don’t know
Oh Oh
You don’t know you’re beautiful

Setelah selesai memainkan lagu tersebut gabriel tersenyum penuh arti, dia punya ide untuk kelompoknya. Ya semoga aja teman2 kelompoknya bisa menerima usulan ini dengan antusias, seakan lupa dengan masalah sebelumnya dia keluar ruang musik sambil bersiul-siul senang.

*
2 menit lagi bel akan berbunyi satu2 anak kelas XI IPA 2 sudah mulai kembali ke kelas, termasuk 3 orang yang sedang berdiskusi tentang nasib kelompok musik mereka.

“ gab ren, gue sebenernya gapunya inspirasi apa2. Gue Cuma punya ide gimana kalau kita bawain lagunya one direction yang one thing. Kalian tau kan? “ tanya sivia pada gaby dan aren. Aren yang mendengar itu langsung mengangguk mantap, sepertinya dia adalah salah satu Directioner di sekolah ini (nama sebutan fans One Direction)

“One Thing? Taulah keren kok lagunya, gue setuju deh setuju yakan gab?” jawab aren semangat. Melihat aren sangat antusias atas idenya barusan dia jadi ikutan semangat, kemudian dia beralih menatap gaby yang belum berkomentar “ lo gimana gab? Setuju kan?” tanya sivia

“ secara gue mirip sama zayn yaa gue setuju ajalah, kembaran gue juga itu” jawab gaby dengan kenarsisannya yang sangat akut. Aren dan sivia melotot kearahnya, gaby yang dipelototin pun ketawa “ hahahahaha gak lah canda ajaaa, santai dong santai gaperlu keluar gitu matanya. Gue sih ngikut ajalah” lanjutnya lagi sambil nyengir
“ bagusdeh kalau kalian pada setuju, nanti pulang sekolah kita mulai latihan yaa. Lo ngiringin pake biola ya gab” jelas sivia, aren dan gaby mengangguk setuju

“ eh vi, gabriel gimana? Dia kan ketua kita, lo udah konfirmasi ke dia?” tanya aren. Sivia nampak berfikir ia hampir aja melupakan hal ini.

“ entar…. “

“ eh, hai untung kalian ngumpul. Entar pulang sekolah kita latihan ya di rumah gue, gue udah tau lagu apa yang bakal kita tampilin” gabriel datang tiba2 dan memotong ucapan sivia, sivia hanya bisa melongo. Aren dan gaby bingung sebentar2 mereka menoleh kearah gabriel lalu sivia begitu seterusnya. Sivia yang sudah tersadar menelan ludah

“ umm yel sory gue rasa untuk hari ini kita latihan disekolah aja” usul sivia yang disetujui oleh aren dan gaby. Gabriel melirik kearah sivia sebentar lalu menoleh lagi kerah gaby dan aren.

“ oke sampai ketemu dirumah gue yaa” seru gabriel lalu berjalan kearah bangkunya tanpa mendengar usul sivia yang tadi. Sivia yang merasa dicuekin hanya mendengus kesal. Aren dan gaby pun hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu menahu ada apa dengan ketuanya tersebut, mau tidak mau mereka sepulang sekolah latihan dirumah gabriel sesuai sama sang empunya usul. Bel istirahat telah usai semua anak duduk ketempatnya msing2 begitu pula dengan sivia, gaby dan aren. Sepanjang pelajaran terakhir itu tampang sivia kusut banget, gak enak diliat. Agni yang duduk sebangku dengan sivia heran, apa ada yang salah atau jangan2 sivia masih marah sama kejadian tempo hari?

“ vi lo kenapa? Masih marah ya? Kan Cuma becanda vi, maafin gue sama rio yaa. Sumpah vi didiemin lo gini gaenak banget, vi ngomong dong” agni nyerocos daritadi tapi sivia tidak menanggapinya, dia hanya mengehela napas panjang. ‘ yah yaudahlah terima aja, ambil nilai sebentar lagi juga, mau dicuekin kek masa bodo emang gue pikirin!’ batin sivia kesal. Lalu ia menoleh kearah agni dan nyengir seakan tidak terjadi apa2. Agni melongo melihat perubahan emosi sivia yang sangat cepat, dia mendesah pelan ‘ via ini kebiasaan gamau cerita deh’ batinnya sambil melirik kearah sivia yang sudah mulai fokus kearah papan tulis. Bel pulang udah berdering sejak 2 menit yang lalu, bagi sivia itu adalah bel tercepat yang pernah dia dengar. Biasanya dia semangat jika udah mendengar bel pulang, tapi kali ini dia terlihat ogah2an. Rio dan agni yang memperhatikan tingkah sivia heran dengan apa yang terjadi dengan sivia.

“ vi dari tadi gue liatin lo mendesah terus kenapa sih?” tanya rio khawatir. Via menoleh kearah rio lalu mendesah lagi. Rio dan agni makin khawatir gak biasanya sahabatnya itu seperti ini. Lalu ia menoleh lagi kearah agni dan rio seperti mau menanyakan sesuatu tapi ia mengurungkan niatnya itu. Gaby dan aren sudah menghampirinya.

“vi, jadikan? Dirumah dia nih jadinya?” tanya aren. Via hanya mengangguk malas. Sebenernya gaby dan aren tak tega melihat teman sekelasnya seperti itu tapi au gimana lagi toh ini semua adalah haknya sang ketua. Via menoleh kearah orang yang membuat kepuusan seenaknya, tanpa menanyakan apakah bisa atau enggak. Dan orang itu menyerukan nama mereka dengan lantang kecuali dirinya.

“ gab ren gua tunggu dirumah yaa, gue balik duluan. yo, ni duluan daaa” ucapnya dengan lantang. Halah gak masalah gak ditegor, bukan artis kan dia itu? Sekarang pandangan sivia terfokus sana 2 orang teman kelompoknya lagi. “ gab, lo naek mobil atau motor?” tanya nya dengan berharap kalau gaby membawa mobil. “ gue bawa motor vi, ini mau kesananya sama aren” gaby memandang via dengan wajah tak enak. Pupus sudah harapannya,ah memang nasib dia sedang jelek hari ini.

“ yaudah lo duluan ajadeh gab, ren. Entar gue nyusul bilang aja sama dia kalau gue telat bentar” jawab sivia akhirnya. Mereka memandang sivia dengan pandangan tak enak, “ maaf ya vi” seru mereka berdua sambil berlalu. Via hanya mengangguk, dia menoleh lagi kearah dua sahabatnya itu. dia berfikir apakah dia perlu minta bantuan rio? Untuk kali ini aja, ah tapi dia udah terlalu banyak ngerepotin rio gaenaklah sama rionyaaa fikir via dalam hati. Rio yang tau gelagat sivia menanyakan kepada sahabatnya tersebut “ kenapa vi?”

“ kalian mau latian ya hari ini?” tanyanya basa basi yang hanya dijawab anggukan dengan agni dan rio. “dirumah siapa?” tanyanya lagi

“ dirumah siti vi, kenapa?” tanpa menggubris pertanyaan rio dia mengingatingat sesuatu, rumah iel kemaren kalo gak salah kearah selatan, sedangkan siti rumahnya arah utara kan ya? Yah gabisa minta tlg nih beda jalur. “ hoi vi?” rio melambaikan tangannya kedepan muka via

“ eh gpp kok gpp. Ooh yaudadeh semangat ya latihannya, good luck buat kelompok kalian biar bisa tampil di acara sekolah nanti ehehe” seru via sekenanya. Dia tak enak jika harus minta tlg mengantarkannya kerumah iel, beda jalur. Tapi agni menyadari itu dia gamau sampe terjadi apa2 dengan sivia, sivia adalah orang yang dia sayangi selain kedua orang tuanya dan rio. “ hari ini lo latihan juga kan? Dirumah iel?” tanyanya yang hanya dijawab anggukan oleh via yang sedang mengobrak abrik tasnya untuk mengambil sesuatu. “ yaudah yuk kami anter” kata agni lembut, rio mengangguk paham.

“ gausah ag, kalian pergi aja udah ditungguin siti noh di depan pintu. Gue mah bisa sendiri” tolak sivia dengan halus, dia hanya tidak ingin merepotkan kedua sahabatnya ini. Rio ingin mmbujuk nya lagi via mendengus kesal “ hai tenang aja bisa sendiri kok, nih gue udah tau alamatnya” sambil menunjukkan selembar kertas kecil kearah agni dan rio. “ gue duluan yaa, see you tomorrow guys”

Sepeninggalan sivia agni dan rio saling memandang dan menghela napas kecil “ sifat dia gapernah berubah ck” seru mereka sambil berjalan kearah siti “ ti, yuk gerak sori lama”

**
Gabriel turun ke lantai bawah ketempat kawan2nya untuk membagikan bagian2 yang akan mereka nyanyikan. “ yuk kita mulai latihan, 1 2 3 You’re …. “ nyanyian iel terpotong karna mendengar suara pintu diketuk.

Tampak via yang sedang mengambil napas nya yang sudah seperti dikejar setan, saat pintu dibuka via hanya bisa nyengir kuda melihat ketuanya. Tapi gabriel seakan tidak peduli dia langsung menuju tempat awalnya, cengiran via lenyap seketika dia mengikuti iel dari belakang lalu melambaikan tangannya kearah gaby dan aren “ hai sory telat” dia melihat kertas2 lagu yang sudah disiapkan gabriel ‘ umm bagian gue yang mana yel?” gabriel melirik sivia sebentar lalu menoleh lagi kearah kertas dihadapannya. “ yel bag….”

“ itu semua bagian lo gue harap lo gak malu2in ntar pas tampil karna suara lo yang fals dan jangan sampe lo lupa lyrics nya” ucapnya dingin yang langsung dipelototin sama sivia. Dia mau menghina atau gimana, err kurang ajar batin sivia. Sivia melihat teks yang ada ditangannya “What Makes You Beautiful”. Dia kaget karna dia Cuma dapet bagian peniring mungkin itupun Cuma sedikit, sepertinya gabriel memang sangat dendam dengan sivia tapi ini keterlaluan. Gabriel sudah memulai bait pertama dengan iringan gitarnya dan biola yang dimainkan gaby
[Gabriel]
You’re insecure
Don’t know what for
You’re turning heads when you walk through the door
Don’t need make up
To cover up
Being the way that you are is enough

[sivia]
Everyone else in the room can see it
Everyone else but you

[Chorus]
Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But when you smile at the ground it aint hard to tell
You don’t know
Oh Oh
You don’t know you’re beautiful

If only you saw what I can see
You’ll understand why I want you so desperately
Right now I’m looking at you and I can’t believe
You don’t know
Oh oh
You don’t know you’re beautiful
Oh oh
That what makes you beautiful
[gaby]
So c-come on
You got it wrong
To prove I’m right I put it in a song

[aren]
I don’t know why
You’re being shy
And turn away when I look into your eyes

[sivia]
Everyone else in the room can see it
Everyone else but you

[Chorus]
Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But when you smile at the ground it aint hard to tell
You don’t know
Oh oh
You don’t know you’re beautiful

If only you saw what I can see
You’ll understand why I want you so desperately
Right now I’m looking at you and I can’t believe
You don’t know
Oh oh
You don’t know you’re beautiful
Oh oh
That’s what makes you beautiful

[Bridge]
Nana Nana Nana Nana
Nana Nana Nana Nana
Nana Nana Nana Nana

[aren]
Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But when you smile at the ground it aint hard to tell
You don’t know
Oh Oh
You don’t know you’re beautiful

[Chorus]
Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But when you smile at the ground it aint hard to tell
You don’t know
Oh oh
You don’t know you’re beautiful

If only you saw what I can see
You’ll understand why I want you so desperately
Right now I’m looking at you and I can’t believe
You don’t know
Oh Oh
You don’t know you’re beautiful
Oh oh
You don’t know you’re beautiful
Oh oh
That’s what makes you beautiful

Prok prok prok gabriel bertepuk tangan semangat, dengan wajah yang sangat senang “ keren keren wah semoga kita dapat nilai bagus yaa, terus nanti kita yang terpilih jadi pengisi acara pas ulang tahun sekolah” agni gaby dan sivia hanya memandang gabriel dengan tatapan bertanya “ iya, kemaren kata pak duta yang nilai tertinggi jadi pengisi acara yaa, gue harap sih kelommpok kita”

“gausah terlalu bagus laah, gue gamau ikutan jadi pengisi acara jadi cukup jadi penikmat acara aja nanti” sela sivia. Yang tidak ditanggapi oleh gabriel. Sivia keki sendiri jadinya, dia berharap kalau kelompoknya tidak menjadi yang terbaik. Baik saja sudah cukup baginya.

Gabriel menghilang sebentar tak lama kemudian ia membawa 3 miuman kaleng dingin. Dia menyerahkan minuman kaleng itu ke gaby aren dan… dan dirinya sendiri apa? Dia bener2 gak dianggap sama gabriel. Aren yang melihat itu hanya meringis kearah sivia sambil menawarkan miliknya seraya mengangkat minuman kaleng itu, sivia menggeleng seolah berkata gak perlu. Dia mengeluarkan botol air minum dari tasnya untung masih ada batinnya.

“ jum’at sabtu kita latihan lagi ya dirumah gue, hari ini cukup latihannya. Makasih guys” katanya tanpa minta persetujuan dari kami. Nampaknya 2 teman kelompokku setuju2 aja, nasib sivia kali ini sangat tidak bagus.

***
Diperjalanan pulang sivia menggerutu kesal sedari tadi, kalau setiap hari latihan dirumah iel ia bisa tekor. Uang jajannya bisa habis hanya untuk naik kendaraan pergi kerumah gabriel, sedangkan pulangnya dia akan jalan seperti ini. Mana jarak antara ruman iel dan rumahnya jauh lagi. Menyusuri jalan berbatu didepannya tak sengaja salah satu batu itu melayang dan…

“ tuk” batu itu mengenai benda yang keras, sivia buru” menoleh kearah batu itu bertengger ditempat terakhirnya, saat melihat keberadaan batu itu dia menepuk jidatnya keras “ duh mati gue”

**
Shilla dan kedua orang tuanya baru saja menyelesaikan urusan kepindahan ke sekolah shilla yang baru, dia memutuskan untuk pindah sekolah ke Indonesia setelah dia setahun sekolah di negara tetangga, singapur. Menurutnya sekolah di negaranya sendiri sangat enak dan dia bisa setiap hari ketemu orang tuanya, di singapur dia hanya tinggal bersama neneknya sehingga ia jarang bertemu kedua orang tuanya yang menetap di jakarta. Saat diiia sedang melihat-lihat buku panduan tentang sekolah barunya tiba2 terdengar suara benda keras yang mengenai mobilnya dia langsung mengarahkan pandangannya ke gadis yang berada di dekat mobilnya, mungkin gadis itu yang menyebabkan batu itu melayang kearah mobilnya. Ayahnya berhenti sejenak.

“ duh mati gue” seruan gadis itu terdengar dari dalam. Dia memperhatikkan gerak-gerik gadis tersebut yang sedang mendekati mobilnya. Dari raut wajah gadis itu dia sangat gelisah, padahal menurutku itu semua bukan masalah karna Cuma terkena batu krikir kecil. Kulihat dia mengetuk jendela mobil papa, papa menurunkan jendelanya dan menatap kearah gadi itu seakan marah. Aku menyeringai lebar kurasa papa sedang mengerjai gadis ini, mama pun menatap demikian. Gadis itu meringis ditatap seperti itu lalu dia menatap kearahku, aku mencoba menatapnya seperti mama dan papa tapi gagal karna aku tidak bisa menahan cengiranku. “ maaf pak bu saya tidak sengaja, tadi saya sedang jalan dan tiba2 krikilnya terbang. Saya gak bermaksud kok pak bu” katanya takut. Aku melihat lagi kearah kedua orang tuaku, mereka udah hampir ketawa melihat pengakuan dari gadis tersebut tapi mereka berhasil menahannya.

“ lain kali hati2 dong, jalan pake mata” jawab papa tegas. Aku hanya bisa cekikikan gadis itu memperhatikanku mungkin dia bingung mengapa aku tertawa, aku hanya menyengir tak jelas kearahnya saat diperhatikan. Pandangan gadis itu kembali kearah mama dan papa

“ umm iya pak, tapi jalan kan pake kaki pak bukan pakai mata” jawabnya polos. Pertahanan mama pecah beliau benar2 sudah tidak tahan untuk berpura-pura mama ketawa dengan volume kecil. Gadis itu melihat kearah mama dia mengernyit melihat mama yang tiba2 tertawa, sekarang tinggal papa yang masih bersandiwara. Gadis itu menunduk kulihat dia meremas tali tasnya, kemudian dia jongkok kearah bagian mobil yang terkena batu krikil tadi aku memperhatikannya dia meringis lalu menoleh kearah papaku lagi “ pak mobilnya lecet, maaf nanti saya ganti kalau saya udah punya uang”

aku berbisik kearah papaku “ udahlah pa kasian dia” papa mengangguk setuju. Papa keluar dari balik kemudi gadis itu mundur beberapa langkah, dia menunduk kembali. Papa mendekat kearahnya papa mengangkat tangannya reaksi gadia itu diam aja, lalu papa menepuk nepuk pundaknya pelan.

“ udah gpp kok gpp, maaf kalau saya tadi membuat kamu takut. Kami gak bermaksud kok, gausah diganti daripada kamu ganti mending uangnya kamu simpen” kata papa ramah. Gadis itu bernapas lega, lalu tersenyum. Senyum yang manis menurutku, dia gadis yang manis masih memakai seragam sekolah dan cardigan pipinya yang merah mungkin karena terkena sinar matahari yang panas walaupun jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Dia bersalaman dengan papaku, papaku memasuki mobil lagi kulihat dia menedkat kesaming mobil. “ kamu memang benar jalan itu pakai kaki, tapi harus hati2 dan lihatlah sekeliling kamu”

“ maaf ya pak sekali lagi, terima kasih” ucapnya sambil tersenyum kearah mama dan kearahku. Yang dibalas anggukan oleh mama, papa menaikkan lagi jendela mobil dan berjalan lagi kearah rumah. Kulihat dia masih menatap kearah mobil kami, lalu dia mulai berbalik dan kembali berjalan.

*****
“ maaf ya pak sekali lagi, terima kasih” ucap sivia sambil tersenyum kearah ibu dan gadis di job penumpang. Tak lama kemudian mobil itu berjalan dan sivia mulai berbalik lagi, dia bisa benar2 bernapas lega sekarang. Dia sangat beruntung karna orang tersebut sangat baik, sivia melirik jam ditangan kirinya. “ wah udah jam empat, mana masih jauh lagi” ia berlari kearah gerbang perumahan iel. Sesampai di gerbang dia mendesah disini mana ada angkot lewat batinnya, gamungkin dia naik taxi lagi dia memeriksa sakunya, uangnya hanya cukup untuk naik angkot. Dia memutuskan untuk berjalan lagi sampai menemukan angkot. Sivia menemukan angkot setelah setengah jam berjalan dari gerbang rumah iel, keringat bercucuran di dahinya. Ia memeriksa botol minumnya ‘ yah habis’ gumamnya pelan. Angkot itu sudah berhenti di gang rumahnya ia membayarnya lalu berlari menuju rumahnya.

Sesampai dirumah ia baru teringat bahwa seharian ini dia belum ada menyentuh makanan sedikitpun kecuali sarapan tadi pagi sebelum pergi sekolah, pantasan saja perutnya sudah keroncongan minta diisi. dia akan memasak untuk dirinya dan ibunya untuk makan malam, sivia memasuki kamarnya dan mengganti pakaiannya untung saja besok hari kamis dan memakai seragam batik, karna seragam osisnya sudah penuh dengan keringatnya. Capek yang dirasakan sivia saat itu, badannya terasa pegel2, dia berniat mengistirahatkan tubuhnya sebentar dengan berbaring dikasurnya. Sivia menghela napas pelan, mengingat kejadian hari ini baginya hari ini hari yang tidak baik baginya dia tiba2 matanya mulai sayup-sayup dan akhirnya ia tertidur pulas. Niatnya yang akan masak pun tidak terkerjakan karna tubuhnya yang terlalu lelah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s