Bintang.. (Part 3)

Posted: Agustus 30, 2012 in Cerbung

Part 3

“ boleh deh, yuk vi lo ikutan “ kata rio yang disetujui via. mereka bertiga yang memang mempunyai beberapa hobi yang sama salah satunya adalah basket pun mulai berebutan siapa yang paling banyak mencetak skor. Ya walaupun via tidak sehebat rio dan agni yang penting ia bisa dan senang bermain basket bersama kedua sahabatnya. “ eh istirahat dulu deh, itu udah dibuatin minum sama mbak sum “ kata rio menyudahi permainan mereka, agni dan via yang juga merasakan capek pun mengikuti rio berjalan menuju ruang santai. Saat mereka sedang minum tiba-tiba rio nyeletuk “ eh vi gabriel juga jago basket, dia kapten basket tahun lalu. Tahun ini dia mengundurkan diri karna dia menjabat sebagai ketua osis”. Via hanya mendengus kenapa harus ngomongin gabriel, kenapa dia harus tau kalau gabriel jago basket emang itu urusan dia? Pikir via dalam hati

Rio dan agni terus berbincang mengenai semua kehebatan gabriel, hanya via sendiri yang bersungut-sungut dia tidak peduli mau sehebat apa gabriel itu, yang dia pedulikan saat ini adalah perutnya yang memang sudah keroncongan karna belum diisi nasi sejak istirahat tadi, bisa-bisa maag nya bisa kambuh.

“ kalian masih mau ngerumpi? Gue mau kedapur dulu nyusul mbak okky siapa tau ada makanan, daripada gue mati kelaparan disini” celetuk via sambil melangkahkan kakinya kearah dapur rumah rio. Rio dan agni yang sejak tadi membahas kehebatan ketua osis sekaligus ketua kelas mereka saling berpandangan

“ mampus nih kalo via udah ngambek, bahaya” ucap agni ke rio, rio mengangguk setuju. Mereka berdua berlari menyusul via kedalam.

**
Ditempat lain disebuah kamar yang terbilang luas seorang gadis sedang menatap dirinya di cermin, ia terus memutar tubuhnya yang dibalut dengan dress selutut yang baru saja diberi oleh papa dan mamanya. Ia tersenyum menatap pantulan dirinya, tanpa ia ssaari mamanya mengintip di celah pintu yang terbuka sejak tadi

“kamu sudah cantik ashilla ayo kita berangkat, papa sudah menunggu di depan” tegur sang mama setelah puas melihat putrinya dari luar. Ashilla yang baru sadar bahwa mamanya sudah berada didepan kamarnya sejak tadi hanya tersenyum malu, ia menghampiri mamanya dengan senyum yang sejak tadi tidak hilang

“ah mama bisa aja ehehe, mamanya aja cantik apalagi anaknya” ujar ashilla, mamanya tertawa mendengar ucapan ashilla. Mereka berdua menuruni anak tangga menuju mobil dimana papanya sudah menunggu. Papa ashilla yang sudah menunggu sedari tadi langsung berdirri tegak setelah melihat ashilla dan mama keluar dari rumah dan ia tersenyum kearah mereka

“lama sekali kalian berdandan. Kalian sudah cantik tidak perlu berdandan lama-lama” serunya sambil tertawa,lalu ia menatap kearah ashilla “kamu cantik sekali malam ini, silahkan tuan putri” lanjutnya sambil membuka pintu penumpang mobil dan mempersilahkan ashilla masuk seakan-akan ashilla adalah putri dari kerajaan.

Ashilla yang diperlakukan seperti itu hanya tertawa dan ia masuk kedalam mobil lalu layaknya seperti dongeng” ia tak lupa mengucapkan ‘terima kasih’ kepada papanya sambil menganggukkan kepala sambil tersenyum. Kemudian pintu itu ditutup oleh papanya, dan sekarang mengulang membukakan pintu untuk mamanya disebelah kursi pengemudi dan papa pun masuk kedalam posisinya.

“kita berangkat tuan putri” ucap papa tertawa, mobil keluar dari rumah dan berjalan membawa mereka kesuatu tempat dimana mereka akan dinner.

Ashilla atau biasa dipanggil shilla sangat beruntung memiliki keluarga yang sangat lengkap dan sangat menyayanginya itu, hanya shilla selalu saja berandai apabila ia adik atau kakak mungkin akan lebih lengkap lagi hidupnya. Tapi shilla tidak terlalu memusingkan hal itu karna, sudah sangat bersyukur dia memiliki keluarga yang sekarang ini dan ia berharap semoga aja akan seperti ini keadaan keluarganya sampai waktu yang telah ditentukan oleh Allah.

**
Sivia yang sudah merasa kenyang dan sudah puas berada di rumah rio berpamitan pulang. Rio dan agni yang tak berbicara apa” sejak kejadian tadi sore saat mereka bermain basket hanya diam melihat via yang sudah berkemas dan menuju pintu depan rumah rio.

“yo gue pulang dulu ya makasih atas semuanya. Ag mau bareng atau gimana?” tanyanya terhadap agni. Agni yang masih mengunyah makanan hanya melongo melihat via ia baru tersadar setelah sikunya disenggol oleh rio

“eh bentar” vi ono bolom siap makannya” seru agni dengan berusaha menelan makanan yang ada didalam mulutnya. Via tersenyum singkat

“ lo siapin dulu deh makanan lo, mubazir kalo nggak habis. Yaudah ya gue pulang duluan Assalamualaikum” ucapnya lalu keluar dari rumah rio. Ia hanya ingin cepat sampai rumah dengan tepat waktu karna ibunya dirumah pasti sudah menunggunya sejak tadi, ia berniat untuk naik taxi agar ia bisa nyampai rumah dengan cepat.

Rio yang tadi sedang kekamarnya kaget setelah melihat via yang sudah tidak ada dirumahnya lagi, ia bertanya pada agni “ ag via mana?”

“udah duluan yo, tadinya gue mau bareng tapi dia langsung nyelonong gt aja pas gue lagi berusaha menghabiskan makanan dimulut gue” ujar agni, rio melongo mendengar ucapan agni

“Gila si via tadi gue kekamar dulu ngambil kunci mobil maksudnya mau nganter kalian pulang, tapi dianya udah nggak ada. Ayodeh ag susul keburu dia jauh” seru rio. Agni yang sudah siap menyelesaikan makannya mengambil tasnya dan mengikuti rio menuju mobilnya.

*

Via yang menunggu taxi lewat sedari tadi tidak kunjung datang, tiba” ada mobil berhenti didepannya, ia sudah bergidik ngeri dan berfikir terus menerus ‘ngapain ni mobil berhenti disini, astaghfirullah jangan sampai gue diculik kasian ibu. Lagian apa enaknya juga nyulik gue gue bukan orang kaya, gue makannya banyak yaAllah lindungilah hambamu ini’ do’anya dalam hati. Mobil yang sedari nangkring didepannya ini menurunkan kaca mobilnya dan dan daaann ternyata yang ada dibalik kemudi mobil itu adalaaah ‘gabriel?’ via melongo terus tersadar setelah gabriel berbicara sesuatu, via yang tidak mendengarnya hanya menatap gabriel dengan pandangan bingung “lo tadi ngomong apa?” tanyanya pada gabriel. Gabriel melengos lalu mengulangi perkataannya tadi

“ mau kemana? Gue anterin udah malem” ualangnya, via yang ditanyain seperti itu melihat jam di tangannya kemudian melihat lagi ke kanan dan kekiri sepertinya tidak ada tanda” taxi yang akan lewat, dan dia terus bergulat didalam pikirannya apakah ia akan setuju dengan tawaran orang didepannya ini atau tidak

‘udah ikut aja vi dia berniat baik ko, kalau nunggu terus entar ibu makin lama nunggunya’ bisikan dari kanan via berkata demikian. Via membetulkan ada benarnya juga, jika ia terus menunggu disini sampai taxi datang, berarti semakin lama juga ibunya menunggu ia dirumah. Dengan keputusan yang ia ambil dengan cepat dalam keadaan darurat ia menyetujui tawaran gabriel, ia menganggukkan kepalanya lalu membuka pintu belakang berniat masuk kedalam kemudian iel mencegahnya “ eh mau ngapain kesitu?” tanya iel

Via yang sudah melangkahkan kaki kanannya kemudia berhenti lalu menatap iel tidak mengerti, tadi ia ditawari ikut dengannya tapi mengapa cowok itu menanyakan ngapain ia masuk kedalam mobilnya. Iel yang ditatapi seperti itu oleh via menjelaskan maksudnya “ maksud gue lo duduk didepan aja, gue bukan supir lo” ucapnya via mengerti sekarang ia mnutup pintu belakang lalu membuka pintu depan dan masuk kedalamnya. Gabriel menjalankan mobilnya.

*
Rio dan agni yang baru sampai di gang depan tempat menyari angkutan tidak melihat tanda-tanda bahwa sivia ada disitu, rio memperhatikan pandangannya sekeliling tapi tetap saja hasilnya nihil begitu pula dengan agni. Rio menghela napas “ udah dapet angkutan kali ya dia, kita kalah cepet nih. Yaudah yuk gue anterin lo, besok kita tanya langsung ke orangnya moga aja dia nggak marah masalah tadi sore” ujar rio yang disetujui agni. Mobil rio keluar dari perumahannya menuju keremaian jalan dimalam hari menuju rumah agni

*
Sepi.
Suasana didalam mobil itu sejak tadi sepi, tidak ada yang memulai pembicaraan. Lagian mau bicara tentang apa? Pikir via. via hanya ingin cepat sampai rumahnya. Gabriel yang merasa kikuk dengan suasana yang super sepi pun menoleh kearah via “gue setel radio gpp kan ya? Sepi nya krik banget” ucapnya meminta persetujuan via. via menoleh kearah gabriel, ia hanya mengangkat bahu lagian inikan mobilnya ngapain minta persetujuan dia. Mendapat respons dari via gabriel pun memutar radio mobilnya ia memilih acak siarannya dan ia mendapat siaran yang sedang memutarkan lagu iwak peyek yang lagi booming banget baru” ini. Suasana kembali sepi hanya terdengar sayup” lagu iwak peyek yang sudah mulai habis, dan gabriel baru tersadar dia belum menanyakan kemana tujuan gadis disebelahnya ini

“ lo mau kemana?” tanyanya. Sepertinya sivia juga baru tersadar bahwa ia belum memberi tahu pemuda disebelahnya ini.

“gue mau pulang, jalan anggrek” jawabnya singkat. Gabriel mengangkat sebelah alisnya setelah mendengar jawaban dari sivia ‘gue jadi supir malam ini’ pikirnya dalam hati biarlah setidaknya dia bakal tahu dimana rumah gadis ini. Via terus diam dan sambil bersenandung kecil agar ia tidak bosan. Tak lama kemudian sudah tiba didaerah sekitar rumahnya. Belum sampai didepan rumahnya dia sudah meminta agar gabriel memberhentikan mobilnya dan meurunkannya disini, gabriel bingung dan ia menuruti permintaan via tapi ia tetap menurutinya. Via turun dari mobil gabriel begitu pula gabriel.

“gue turun disini aja, rumah gue masih ada didalam sana. Mobil gamuat masuk kejalan ini jadi gue jalan kaki aja”terang via menjelaskan kebingungan gabriel. Gabriel mengangguk mengerti. “makasih atas tumpangannya” lanjutnya lalu ia berjalan meuju rumahnya, gabriel mengikutinya tanpa ada berbicara sedikitpun. Kini via yang heran mengapa gabriel mengikutinya

“ lo ngapain ngikutin gue? Mau tau banget rumah gue? Rumah gue nggak bagus kayak rumah lo kok tenang aja” seru via menatap gabriel, lagi” gabriel mengangkat sebelah alisnya. Sivia melengos lalu kembali berjalan, gabriel tetap mengikutinya dan via kembali berhenti menghadap gabriel ” l“ sebenarnya mau ngapain sih yel” tanyanya dengan suara agak meninggi, gabriel merasa dia harus berbicara kali ini daripada dia dikira macam” dengan orang sini.

“gue Cuma mau nganter lo sampe rumah, gue cuma mau mastiin lo nyampe rumah lo dengan selamat” jwabnya lalu terus berjalan. Via melongo dia berjalan mengikuti gabriel.

“ nggak perlu. Rumah gue juga bentar lagi nyampe tuh yang diujung jalan” seru via lagi, gabriel kembali diam membuat via jengkel. “ lo mending berhenti dan balik kemobil lo sekarang, gue nggak perlu lo anter karna gue bukan anak kecil” habis sudah kesabaran sivia menghadapi gabriel. Gabriel diam dan menghadap kearah sivia lagi.

“ yang bilang lo anak kecil siapa? Gue Cuma mau mestiin lo nyampe rumah dengan selamat, nggak lebih “ jelas gabriel, via tampaknya tetep belum puas dengan jawaban gabriel

“insyaAllah gue selamat sampai rumah gue, jadi gue gaperlu lo anter dan terima kasih atas niat baik lo itu” seru via. gabriel tak peduli dengan ucapan sivia ia terus mengikuti via sampai kerumahnya. “ YEL!!” bentaknya. via benar” sudah tidak bisa menahannya lagi, sudah sampai dipuncaknya. Gabriel juga kaget dengan apa yang ia dengar barusan. Tanpa sadar mereka sudah sampai didepan rumah via.

Gabriel menghela napas sebentar “ vi, gue Cuma berniat baik untuk nganterin lo. Gue Cuma mau mastiin, karna kalau terjadi apa” gue yang bakal ditanyain macam” karna gue orang terakhir yang ada bareng lo” ucapnya dengan sabar ia tak mau ada keributan diwilayah orang.

Terdengar bunyi pintu terbuka dan keluar ibu sivia yang heran mengapa ada suara ribut diluar rumahnya. Ternyata putrinya sudah pulang dan bersama seorang pemuda yang sedang menjelaskan sesuatu kepada putrinya itu.

“ sivia, kamu sudah pulang dan kamu diantar oleh…“ bu donna menggantungkan kalimatnya karna ia tidak tahu siapa pemuda yang berada disebelah putrinya itu. Sivia dan gabriel menghadap kearah sumber suara, gabriel yang menydari bahwa ibu itu ingin meminta penjelasannya terhadap apa yang sudah terjadi pun tersenyum dan memperkenalkan dirinya.

“malam bu saya gabriel teman sekelasnya sivia, saya Cuma mau nganter sivia bu” ucapnya sambil mencium tangan ibu sivia. Sivia melengos melihat sikap gabriel yang tiba” lembut dihadapan ibunya.

“oh nak gabriel. Makasih ya sudah mau mengantar sivia, mau mampir dulu” ujar bu donna sambil tersenyum kepada gabriel

“ nggak usah bu sya langsung pulang aja udah malam, permisi bu” katanya. Gabriel berjalan menuju tempat dimana ia memarkirkan mobilnya tadi sebelumnya ia sempat melirik kearah sivia yang sedang dilihatnya hanya membuang muka dan ia segera mengajak ibunya masuk. Saat sudah sampai didalam mobilnya ia hanya menghela napas “ tantangan menghadap orang kayak gini” ucapnya pelan. Ia menyalakan mobilnya dan berjalan memasuki jalanan yang sudah mulai sepi karna sudah hampir pukul sembilan malam.

*
Setelah ia menjelaskan ke ibunya mengapa ia bisa bisa pulang telat dari biasanya sivia langsung menuju kamarnya. Ia merasa lelah dan ia ingin segera mengistirahatkan badannya sebelum menghadapi hari esok, tapi pikirannya terus memikirkan kegiatan yang ia jalankan sekitar kurang lebih satu jam yang lalu. Ia memikirkan gabriel. Cerita singkat ia bisa bersama gabriel terus berputar diotaknya.

Saat ia sedang menunggu taxi, tiba” mobil gabrile sudah berhenti dan gabriel menawarkan untuk mengantar via tanpa tahu tujuan sivia. Saat sudah sampai di gang rumah sivia gabriel ngotot ingin mengantar sivia hanya karna dia tidak ingin disalahkan jika terjadi apa” gabriel yang akan ditanyakan karna ia yang berada bersamanya terakhir. Dan kesimpulan yang via dapatkan adalah: berarti dia nggak ikhlas dong nganterin aku kalau alasannya begitu? Karna ia terus memikirkan kesimpulan itu lambat laun matanya mulai menutup karna sudah lelah terhadap kegiatannya hari ini, dan akan bersiap untuk kegiatan hari berikutnya yang sepertinya akan lebih menguras energinya.

**

Hari baru cerita baru dan masalah baru.

Nampaknya pagi ini sivia bangun telat dari biasanya, mungkin efek kecapean dari kegiatan kemarin. Ibunya memaklumi itu karna juga kebetulan via sedang datang bulan sehingga ia tidak khawatir karna putrinya tidak melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai mandi dan mengenakan seragam sekolahnya ia kaget mendapati dua sahabatnya berada dimeja makan menunggu nya untuk sarapan bersama. Via mengangkat kedua alisnya yang diliatin pun hanya nyengir nggak jelas

“ selamat pagi siviaaa” seru mereka kompak.

“ pagi” jawabnya singkat sambil duduk mengikuti dua sahabatnya itu. “ tumben jam segini uad pada rapi” lanjutnya lagi sambil melihat jam tangannya. Masih jam 06.00 dan dua sahabatnya sudah berada dirumahnya duduk menunggu sarapan luar biasa sekali. “ada apa sih kok tumben banget?” tanyanya lagi. Mimik muks rio berubah setelah via bertanya demikian

“ nggak boleh nih kita dateng kerumah lo? Oh gitu, oke fine yuk deh ag kita duluan aja kesekolah. Kita nggak dibolehin sarapan bareng dirumahnya” seru rio ia berdiri dari tempat duduknya lalu menarik tangan agni. Via melongo whatte apa”an ini, tiba” mereka sudah ada dirumahnya dan sekarang marah” nggak jelas. Seharusnya yang marah dia, inikan rumah dia. Sivia tidak menghalang rio dan agni supaya tidak pergi dari rumahnya seperti yang disinetron-sinetron. Menurutnya ini bukan salahnya jadi kenapa harus menghalang mereka, keinginan mereka kan? Yasudah nggak usah dibawa pusing. Saat ibu via kembali ke meja makan dia heran rio dan agni tidak ada disana

“ kok dua orang hilang? Knp sih?” tanya ibunya. Via hanya mengangkat bahu kemudian mengambil nasi goreng yang baru saja ibunya masak. Sesuap dua suap kemudian agni dan rio kembali duduk disebelahnya “ kok balik? Nggak jadi duluan?” tanyanya santai

“ jahat ih via, kok nggak ngalangin kita sih supaya kami nggak pergi?” ucap agni manyun. Kemudian mengambil nasi goreng sama seperti via kemudian memakannya begitu juga dengan rio. Via hanya menggelengkan kepalanya kemudian menghabiskan sarapan yang ada dipiringnya. Saat ia sudah selesai tetapi kedua sahabatnya ini belum selesai dan ia hanya melihat mereka berdua yang makannya lahap banget seperti orang yang nggak makan beberapa minggu. Rio dan agni sudah siap dengan sarapannya kemudian meminum air yang sudah disediakan oleh ibu sivia di gelas mereka.

“jadi apa cerita tadi malam sampai bisa dianterin ketua osis sekaligus ketua kelas kita itu?” tanya rio sambil memainkan matanya dan senyum” yang membuat sivia melongo. Sivia tidak habis pikir kenapa dua sahabatnya itu bisa tau kalau dia tadi malam pulang dengan gabriel? Berarti….

“ibuuuuuuuuuuuu…….” sivia berseru kencang dan kedua sahabatnya ini tertawa mendengarnya. Entah apa yang membuat mereka ketawa padahal tidak ada lucu, ibu donna yang mengetahui dirinya dipanggil oleh putrinya sudah mengira bahwa anaknya pasti akan kesal jika kejadian tadi malam diceritakannya oleh rio dan agni. Hanya kepala yang ia munculkan kearah putrinya sambil tersenyum ia mengangkat jarinya sehingga membentuk huruf V tanda perdamaian antara ia dan putrinya. Via yang melihat itu hanya cemberut lalu berjalan kearah ibunya “ ibu apaan deh pake acara cerita ke mereka. Via pergi dulu bu Assalamualaikum” pamitnya dengan muka masih ditekuk. Agni dan rio yang masih tertawa pun ikut pamit kepada bu donna

“bu makasih atas sarapannya dan infonya, kami pergi buu dadaah” ucap rio sambil terus tertawa menyusul sivia yang sudah berjalan agak jauh sambil merengut. Rio dan agni berhasil menyusul langkah sivia dan terus menggoda sivia. Bu donna hanya tersenyum melihat pemandangan yang begitu membuat dirinya senang. Dia bersyukur memiliki putri yang luar biasa dan sahabat sivia agni dan rio yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.

Di dalam mobil rio sivia terus didesak oleh agni untuk bercerita tentang dirinya dan gabriel tadi malam. Rio yang sedang menyetir hanya menyetujui semua yang agni katakan karna ia fokus kedepan agar mereka bisa sampai kesekolah dengan selamt sampai tujuan.

Sivia super kesal ditanyain seperti itu, menurutnya tidak ada yang perlu diceritakan. Sampai disekolah rio dan agni terus mengusik sivia untuk bercerita apalagi setelah mereka berpapasan dengan gabriel ditempat parkir dan gabriel sempat menoleh kearah sivia, sivia makin digodain oleh kedua sahabatnya. Kelas menjadi heboh gara” agni dan rio sampai orangnya datang mereka bersiul tidak jelas dan rio pun mendekati gabriel sekedar berbasa-basi mungkin hal itu membuat sivia melotot kearah mario.

“hey gabriel tadi malam seru ya” tanya gabriel tertawa sambil merangkul gabriel. Sok akrab sekali bocah tengil itu batin via “ nganterin sampe depan rumah ya?” tanyanya lagi. Kali ini bukan sivia saja yang melotot kerah mario dan gabriel tetapi gabriel juga melihat kerah sivia.

Sivia membalas tatapan itu seakan berbicara “apa lo liat-liat”. Gabriel membuang pandangannya kemudian duduk ditempatnya tidak menghiraukan apa yang sedang terjadi. rio yang melihat kearah sivia memutuskan untuk berhenti untuk menggoda gabriel dan ia kembali ketempat duduknya kemudian bertepuk ria dengan agni yang ada disebelahku. aku menghadap kearah nya dan berseru pelan kearahnya “ cukup. Atau gue diemin lo bedua” ancamnya. Rio dan agni terdiam lalu tertawa lagi setalah sivia kembali menghadap kearah tempat duduknya.

‘mampus gue’ rutuk sivia dalam hat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s