bintang.. (part2)

Posted: Februari 25, 2012 in Cerbung

part 2

‘ nggak laper pala lu peang vi, laper banget ini ‘ ucapnya pelan pelaaan banget. dia berniat balik lagi ketempat duduknya dengan niat ingin mengambil sebatang beng-beng untuk mengganjel perutnya tapi alangkah kagetnya saat ada orang lain selain dirinya dikelas itu.

“ eh… “ serunya kaget. Orang yang dari tadi menatapnya itu menaikkan alisnya lalu seakan tidak ada yang perlu dilihat, kedua orang itu pun mengalihkan pandangan mereka dan melanjutkan pembicaraan mereka tadi.

Via yang tadinya kaget pun berjalan kearah 2 orang tersebut, dia pura-pura lewat sambil menundukkan kepalanya berkali-kali tapi tetap aja tidak ada respon dari keduanya “ ehem permisi “ katanya sekali lagi. Tampaknya kedua orang tersebut tetap tidak memberi reaksi terhadap apa yang dilakukan via daritadi “ ehem permisi yaa “ ulangnya lagi. Salah satu dari mereka tampaknya kesal dengan via sehingga ia memberhentikan pembicaraannya kemudian mulai menegur via

“ lo kenapa sih? Daritadi mondar-mandir terus, kurang kerjaan “ serunya dingin. Via yang sudah mulai mendapat respon dari salah satu nya mulai berhenti dan dia nyengir kearah sang penanya tadi

“ ehee maaf ka. Gue Cuma mau nanya lagi ngomongin apaan sih kalian berdua? “ tanyanya polos. Via menatap orang didepannya satu persatu sambil terus mengharapkan pertanyaannya dijawab. “ hoi ka alvin, ka ngomongin apaan sih? Tentang osis ya? Ikutan dong” tanyanya ulang.

Sivia memang salah satu osis di SMA Tunas Bangsa, ia menjabat sebagai seretaris dan 2 orang yang didepannya adalah 2 rekannya di osis mereka berdua adalah ketua dan mantan ketua osis. Mungkin via heran kenapa kalau ngomongin osis gak ada rapat dengan yang lain? Kan kalau mau mengerjakan sesuatu semua anggota osis harus ikut serta. Apalagi dia sebagai sekretaris harus tau apa aja yang akan dilakukan dalam kegiatan osis, sehingga dia bisa membuat proposal yang akan diberikan kepada kepala sekolah. Berarti kalau memang kedua rekan didepannya ini sedang membicarakan tentang osis via juga harus ikut serta, karna itu sudah menjadi tugasnya.

“ bukan tentang osis, lagian lo siapa sih? Mau tau aja urusan orang “ seru orang yang bernama alvin tersebut. Mulut via terbuka dia kaget dengan apa yang barusan dibilang oleh orang didepannya ini, kemudian dia menutup mulutnya. Dia mengangkat bahunya lalu kembali ketempat duduknya. Saat ia berjalan kearah tempat duduknya, sang ketua osis melirik kerahnya lalu kembali berkonsentrasi mendengarkan orang yang berada di depannya, kakak kelasnya dan kakak kandungnya.

Saat sudah sampai ditempat duduknya via cukup kesal dengan apa yang baru saja didengarnya ‘ lo siapa sih? Mau tau urusan orang aja ‘ kata-kata itu terus terngiang diotaknya. Mantan ketua osis alvin yang sekarang sudah dialihtugaskan ke iel yang menjabat sebagai ketua osis beberapa bulan ini. ‘ katanya dia ketua osis yang baik. Dih gapercayaa, mana ada baik-baiknya tu orang’ dumelnya dalam hati. Sambil terus berdumel dia merogoh kantong tasnya untuk mencari beng-beng seperti niat awalnya, saat sudah berada ditangannya beng-beng itu dengan sekejap habis ditangan via. Seakan tidak ada puasnya ia membersihkan kantong beng-beng tersebut dengan tangannya kemudian menjilatnya. Mungkin orang yang melihatnya seperti itu akan membilangnya jorok, tapi bagi via itu bukan jorok melainkan menghabiskan makanan yang ada kan mubazir kalau terbuang begitulah pemikirannya.

Sepertinya jam istirahat akan segera berakhir, sudah banyak teman-temannya yang dari kantin memasuki kelas. Agni yang menjadi bagian dari orang-orang yang bau memasuki kelas langsung mencari via yang sedang duduk dibangkunya dengan muka ditelungkupkan ke meja. Agni pun berjalan menuju bangku via yang merupakan sebelah tempat duduknya.

“ hoi lagi ngapain? “ tanya agni. Via yang sedang asik merasakan betapa nikmatnya beng-beng yang barusan ia makan pun mengangkat kepalanya dan menoleh kearah agni. Ia menyengir lalu mengambil botor air minum didalam tasnya.

“ habis menikmati rezeki yang begitu nikmat “ kata via sembari tersenyum. Agni yang melihat sahabatnya itu tersenyum dengan penuh penghayatan tidak menanyakan apa-apa lagi. Tiba-tiba seorang cowok datang kearah mereka sambil membawa 2 bungkus coklat beng-beng, via yang melihat itu langsung memanggil anak itu dengan senyum yang merekah.

“ yo “ panggil via kepada anak cowok tersebut yang dipanggilnya ‘yo’. cowok itu yang merasa dirinya dipanggil ia menuju kearah bangku via.

“ kenapa vi?” tanyanya berdiri tepat didepan agni dan via. via tersenyum kearah cowok tersebut

“ itu beng-beng nya boleh buat gue satu nggak? “ tanyanya to the point sambil memasang senyum yang super unyu. Cowok itu mengangguk lalu memberikan beng-beng itu kepada via. via menerimanya dengan raut wajah yang begitu senang.

“ doyan amet sih neng sama beng-beng “ kata cowok tersebut, via hanya memamerkan giginya. “ lo mau juga ag?” tanya cowok tersebut ke agni. Agni hanya menggeleng. “ loh kok nggak dimakan vi? “ tanya cowok itu lagi karna beng-beng yang ia berikan kepada via bukannya ddimakan malah dimasukkan ke tas oleh via.

“ ehehe, buat entar malem aja deh. Buat cemilan kalo ngerjain tugas “ jwab via. “ oh iya lo tadi kenapa telat sih, kebiasaan banget. ubah deh kebiasaan jelek lo itu” seru via menatap cowok tersebut, yang ditanya pun hanya cengengesan.

“ duh via lo kayak nggak tau mario stevano aditya aja deh, rajanya telat di sekolah ini. Untung-untung aja dia masuk, biasanya juga nggak masuk “ potong agni sebelum cowok itu menjawabnya. Sepertinya cowok yang bernama mario itu sewot kearah agni, dia tidak setuju dengan apa yang disebut agni barusan.

“ enak aja! Gue nggak pernah bolos yaa, gue kalau nggak masuk pasti ada surat izinnya “ jawabnya sewot. “ gue itu baru pulang dari bandung nyampe rumah jam 6 pagi, daripada gue dirumah nggak ngapa-ngapain mending kesekolah deh yah walaupun telat “ jelasnya. Agni hanya menggerakkan mulutnya seakan sudah sering cowok didepannya ini memberi banyak alasan. Via yang bertolak belakang dengan agni malah terus menanyakan ke rio apa yang cowok itu lakukan di bandung.

“ lo ngapain aja di bandung? Kok nggak ngajak-ngajak sih yo, gue kan pengen kesanaaaa. Belum pernah nih, pengen banget. “ seru via sambil memanyunkan bibirnya, rio yang tidak enak karna tidak memberi kabar apa-apa sama dua cewek manis didepannya ini pun hanya bisa garuk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal itu.

Mario stevano aditya atau yang lebih akrab disapa rio oleh teman-temannya ini adalah salah satu sahabat agni dan via , cowok satu-satunya diantara mereka bertiga. Hanya saja via dan agni mulai akrab dengan rio saat semester kedua di kelas satu. Awalnya mereka jarang banget ngobrol dengan rio ini, tapi karna memang ternyata rio orangnya friendly dengan mudah menarik perhatian via dan agni dan memulai persahabatn dari situ. Mereka bertiga bersahabatan dengan karakter dan latarbelakang yang berbeda-beda, tapi itulah yang membuat mereka bersahabat yang bisa mengisi satu sama lain. Rio yang mempunyai keluarga yang bisa dibilang mewah tetapi, selalu saja di bebani dengan cita-cita orang tuanya untuk menjadikannya seorang pebisnis seperti kedua orang tuanya. Agni yang juga mempunyai keluarga cukup mewah jika dibandingkan levelnya dengan rio hanya beda satu level dibawah rio. Dan via yang hanya tinggal bersama ibunya di sebuah rumah yang terbilang cukup sederhana. Tapi bersahabatn mereka tetap berjalan baik-baik saja, karna persahabatn bukan dilihat dari segi materi kan? Persahabatan bisa dijalin oleh siapa saja.

Rio yang masih bingung harus bilang apa terhadap sahabatnya ini pun melirik kearah agni, agni yang merasa dilirik oleh rio hanya menggeleng sambil mengangkat bahunya. Rio pun makin bingung ‘agni aja gatau mesti gimana apalagi gue’ pikir rio dalam hati. “ ehmm… vi jangan marah dong, kemarin itu mendadak banget. gue tiba-tiba ditelpon bokap suruh nyusul kesana, gue diancem kalo gak kesana gue bakal dipindahin. Gue nggak mau pindah jadi yaah gue nyusul kesana, setelah semuanya selesai gue kan langsung balik vi gue nggak lama-lama disana, buktinya gue sekarang ada disini “ jelasnya panjang lebar

“ tapi kenapa nggak sms aja sih ke agni, apa gunanya punya hp canggih? “ tanyanya sebal. Agni yang awalnya Cuma menjadi pendengar akhirnya mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan via barusan. Rio meringis mendapat jawaban dari via

“ itu dia vi saking menddadaknya gue lupa bawa hp ehehe “ jawabnya pelan. Via hanya menjawab tanpa bersuara. “ tapi tenang vi, gue sempet beli oleh-oleh dari bandung kok. nanti pulang sekolah lo berdua kerumah deh, tadi nggak gue bawa soalnya nggak sempet” lanjutnya lagi. Via tampak berfikir, agni menganggukkan kepalanya

“ boleh deh yo, sekalian basketan yuk ntar. Lagian udah lama juga nggak main kerumah lo, gimana vi?” tanya gni menoleh kearah via, rio juga menoleh kearah via. keduanya menunggu jawaban via yang sedang nampak berfikir

“ eummm, boleh deh tapi ntar gue nggak bisa lama yaaa “ jawab via akhirnya, rio dan agni pun hanya mengangguk mantap. Sudah lama meraka tidak main kerumah rio karna memang setiap mau kerumah rio pasti ada aja halangannya sehingga mereka nggak jadi ngumpul. Kelas yang dari tadi memang sudah rame seperti pasar pun perlahan suaranya mulai tidak terdengar lagi, ternyata ada yang berdiri didepan kelas dan sepertinya ingin mengumumkan sesuatu. Rio pun kembali ketempat duduknya yang berada dibelakang tempat duduk via dan agni.

Ternyata yang berada didepan kelas itu sang ketua kelas ia mengumumkan sesutu yang sudah menjadi kewajibannya. “ maaf ganggu aktifitas kalian, gue baru dikasih tugas sama pak duta karna beliau nggak bisa ngajar hari ini, dia ngasih kita tugas kelompok yang harus diselesaikan. Dan kelompok itu sendiri sudah ditentukan oleh beliau, nama yang gue sebutin langsung membentuk kelompok “ jelas sang ketua “ kelompok satu septian, abner, gita… kelompok dua eldwin, febby, olin… “ sang ketua kelas masih terus menyebutkan nama-nama kelompok, sedangkan agni dan via berharap mereka bisa sekelompok bersama rio “ kelompok lima agni, rio, siti … dan kelompom terakhir sivia, aren, gaby dan gue sendiri tolong membentuk kelompok sesuai dengan nama-nama yang gue sebut tadi. Ada yang mau ditanyakan? “ tanyanya. Via kaget kok bisa dia tidak sekelompok dengan agni dan rio begitu pula dengan agni dan rio. Via yang masih ragu dengan apa yang barusan diucapkan sang ketua akhirnya mengangkat tangan dan bertanya kepada ketua “ ya sivia mau tanya apa?” tanya sang ketua

“ euum itu udah bener yang lo umumin tadi, mungkin ada yang salah. Mungkin lo bacanya kepeleset sedikit, mungkin gue harusnya dikelompok lima trus siti dikelompok enem “ tanya via dengan kata-kata mungkin. Sang ketua mendengus pelan lalu menjawab pertanyaan via

“ gue nggak salah baca, lo kelompok enam. Kalo nggak percaya liat aja sendiri “ serunya. Via yang masih tidak percaya akhirnya pun maju kedepan lalu mengambil selembar kertas yang berisi nama-nama kelompok itu, ternyata benar via tidak sekelompok dengan agni dan rio melainkan sekelompok dengan sang ketua. “ udah liat kan? gue nggak salah baca kan? “ tanya sang ketua kearah via, via hanya mengangguk pasrah lalu berjalan gontai ketempat kelompoknya. Agni dan rio hanya menatapnya dengan tatapan ‘ vii tetap semangat (???)’. gabriel pun memberitahukan apa yang harus dikerjakan oleh masing-masing kelompok lalu dia memberi pesan kepada setiap kelompok “ tugas ini memang di tampilkan sebulan lagi, tapi gue harap jangan menganggap remeh karna ntar hasilnya nggak memuaskan. Selamat bekerja bagi setiap kelompok” jelasnya, lalu ia berjalan kearah kelompoknya, kelompok sivia.

Semua kelompok mulai sibuk menentukan apa yang harus mereka tampilkan, sudah 30 menit waktu berjalan bel pulang pun berbunyi. Semua kelompok mulai membereskan peralatan tulis mereka dan langsung bergegas pulang. Begitu pula dengan kelompok via. “ oke gue rasa itu konsep awal yang akan kita mulai, kalau ada yang nggak ngerti bisa nanya ke gue. “ terang sang ketua

“ gue nggak ngerti yel sumpah “ kata via jujur, gabriel yang kelihatannya sebal tapi tidak dinampakkan ke teman-temannya.

“ yaudah kalau gitu besok pulang sekolah kita bicarain lagi, bisanya dimana? “ tanyanya.

“ dirumahmu aja yel “ koor anak-anak yang lain, kecuali via. gabriel yang nampaknya setuju-setuju aja jika besok akan membicarakan konsep mereka dirumahnya, lalu dia menoleh kearah via yang tidak ikut memberi suara.

“ lo setuju nggak? “ tanya gabriel. Via nampak berfikir

“ eumm, liat besok aja gimana? Boleh nggak? “ tanya via lagi. Gabriel mengangkat satu alisnya, lalu dia mengeluarkan handphone nya dan menyodorkannya ke via

“ minta nmr lo deh. Ntar mlm biar gue tanya kepastiannya aja, kalo lo udah setuju biar gue bisa ngasih tau yang lain “ kata gabriel sambil terus menyodorkan hp nya. Via mendengus lalu menoleh kearah lain, tampak rio dan agni yang sudah menunggunya didepan kelas. Lalu tangannya melambai kerah agni dan memanggil agni

“ ag “ panggilnya yang dipanggil pun menoleh heran dengan raut wajah agni yang seakan berkata ‘ kenapa’ “ sini bentar deh ag” via pun menyuruh agni kedalam, setibanya agni didekatnya via mendekati agni “ pinjem hp lo bentar dong” lanjutnya, agni yang heran pun hanya mengeluarkan hp nya dari dalam sakunya. Via kembali ketempat gabriel duduk “ noer lo yang berapa? Ntar biar gue yang sms duluan” kata via pada gabriel. Gabriel pun memberikan nomernya kepada via “ yaudah ntar gue sms. Yuk deh ag kita pulang.” Lanjut via langsung pergi keluar kelas tanpa memberi kesempatan gabriel berbicara. Gabriel hanya mengangkat bahu lalu ia pun juga pergi meninggalkan sekolah yang sudah sepi.

**
Mereka sekarang berada didalam mobil rio, suasana di dalam mobil itu sepi hanya terdengar suara musik mobil rio yang memang disetel oleh agni. tidak ada yang memulai pembicaraan sedikitpun sejak tadi, sivia pun diam tidak heboh seperti biasanya ia hanya memejamkan matanya sejak tadi. “ ehem “ rio yang bosan dengan suasana seperti ini pun berdeham sedikit dan mendapat reaksi dari kedua sahabatnya itu, agni menoleh kearah rio begitu pula via ia membuka matanya lalu mendekat kearah agni dan rio yang memang dia saat itu duduk dibangku belakang sedangkan rio yang menyetir agni berada disebelah rio.

“ kenapa yo? “ tanya via

“ gpp sih, ya habis sepi banget suasananya. Lo yang kenapa kali vi? “tanya rio balik. Agni mengangguk setuju, via mendengus lalu menghempaskan badannya.

“ err gue masih gaterima kita bertiga gak sekelompok, dan gue dimasukin di kelompoknya gabriel. Lo berdua enak banget masih bisa satu kelompok nah gue? *emot tangan garpu* “kata sivia malas. Rio dan agni hanya cekikikan via pun melototi kedua sahabatnya itu “ kok malah ketawa sih? “ tanyanya sebal

“ ekekek selo vi selo, lagian enak kok sekelompok sama pak ketua gue udah pernah dia itu orangnya tanggung jawab vi. Dia juga jago di pelajaran ini, suara dia bagus kok bisa main gitar, piano, drum “ terang agni. Io mengangguk setuju

“ terus kalau suara dia bagus, dia bisa main gitar dan semacamnya gue harus bilang ‘WOW’ gitu? Lagian ko dia bisa jadi ketua kelas keta sih? ” tanya sivia sewot.

“ satu kelas pada milih dia semua kali vi, lo sih waktu itu gamasuk “ seru rio

“ gue gak milih dia kok jadi gak satu kelas kan. Terus kenapa harus gue wakil nya cobaa? Kan gue gamasuk? Seharusnya bukan gue dong “ via menarik napasnya lalu mengeluarkannya “heuh.. cobaan yang berat dikelas 2 ini “ lanjutnya lebay. Agni dan rio hanya bisa melongo, sejak kapan sahabatnya jadi selebay ini.

“ lo belum pernah aja sekelompok sama dia, cobain dulu deh anaknya asik kok “ terang rio membangkitkan semangat via. “ bener tuh bener “ setuju agni

“ oke di coba “ semangat via akhirnya. “ ag tlg smsin ke nmr gabriel tadi dong, bilang kalau gue setuju “ seru via kepada agni. Agni yang dimintain tlg sama via pun mulai mengetik pesan untuk gabriel “ eh bawahnya jgn lupa tulis nama lo ya ag “ lanjut via lagi. Agni mendelik kearah via

“ kok gue? “ tanya agni gak setuju, via membulatkan bola matanya

“ itukan nmr lo agniii, yakali pake nama gue *krik “ jelas via, agni hanya menganggukkan kepalanya. Via memang tidak mempunyai ponsel tapi bukan berarti dia tidak mengerti cara menggunakannya, hanya saja dia tidak ingin merepotkan ibunya hanya dengan mempunyai ponsel. Padahal waktu itu agni dan rio sudah ingin membelikan ponsel buat via tapi via melarangnya. Agni dan rio tetp ngotot ingin membelikannya karna via tidak memberikan alasan yang logis kenapa mereka nggak boleh membelikannya akhirnya via mengancam tidak akan mau bertemu dengan mereka lagi, dan mereka pun menyerah karna tidak ingin ancaman itu terjadi. rio melirik via sambil terus mengemudikan mobilnya yang sudah mulai memasuki komplek rumahnya, ia ingat saat berargumen tentang ponsel terhadap via saat itu

*
“ vi ntar kalo ada sesuatu cara ngabarinnya gimana “ tanya rio kesal saat via tetap nggak mau menerima ponsel pemberiannya

“ lo kan tau rumah gue yo, kerumah gue ajalah “ jawab via enteng. rio mendengus

“ kalau lo yang tiba-tiba punya berita buat kami? “ tanya rio lagi

“ gue kerumah kalian lah. Eh gak ding kerumah agni aja “ jawab sivia lagi

“ walaupun udah tengah malem lo baru inget tetep kerumah agni gitu? Trus kok nggak mau kerumah gue? Kenapa?” tanya rio sewot, tidak adil baginya kenapa via tidak kerumahnya aja sekali sekali jgn kerumah agni terus dong

“ ya nggak gitu juga lah, kalau misalnya gue baru ingetnya malam besok paginya gue kerumah agni “ terang sivia, rio hendak ingin bertanya lagi tapi via buru-buru mendahuluinya “ pagiii banget pas subuh gue kerumah agni. Masalah yang kenapa gue nggak kerumah lo aja dan kenapa hanya kerumah agni, kan ntar pas gue udah nyampe rumah agni gue langsung nyuruh agni sms elo kan gampang. Lagian ya yo gue agak takut gimana gitu kalau harus kerumah lo, kan ngeri tiba-tiba kerumah seorang mario stevano yang rumahnya super gede “ canda via sambil ketawa. Saat itu akhirnya rio mengerti dan tidak bertanya-tanya lagi kepada via kenapa ia tidak mau kerumahnya saja

**
Rio yang mengingat itu hanya tersenyum, tak lama kemudian mereka sampai dirumah rio yang di pagarnya terdapat simbol keluarganya. Agni yang biasa aja dengan rumah rio turun dari mobil dan langsung nyelonong ke dalam tanpa menunggu rio. Tapi tidak dengan sivia dia memandang rumah rio lekat-lekat dan dia selalu mengucapkan kata ‘ waaaaah keren’ setiap 5 detik sekali. Via yang melihat agni nyelonong masuk langsung mengikuti agni dan menarik seragam agni “ ag, tunggu yang punya rumah masuk dulu dong” bisik agni

Rio yang mendengar bisikan via yang sebenarnya bukan seperti bisikan karna suara via sangat terdengar sampai didala pun langsung menegur via “ ck biasa aja kali vi, selo aja kalo disini mah “ kata rio. Via menganggukkan kepalanya lagi lalu mengikuti agni dan rio yang udah duluan masuk. Sekali lagi via menatap rumah rio yang sangat besar tapi terlihat sepi disini dibanding rumahnya yang kecil tapi terlihat ramai karna ibunya tidak pernah keluar kota seperti orang tuanya rio.

“ yo rumah lo gede banget, kalah nih rumah presiden’ katanya lebay, rio hanya tertawa “ bisa kali satu sekolah masuk dalam 1 rumah ini “ lanjutnya lagi

“ masih gedean rumah presiden kali vi. Mungkin bisa, lo bedua sih disuruh kalo tiap malam minggu nginep dirumah gue aja nggak mau “ seru rio

“ boleh deh yuk, sabtu ini ya yo “ kata agni semangat “ bosen dirumah aja “ lanjutnya lagi

“ eh jangannn bukan mukhrim. Gue sama agni cewek lo cowok tinggal satu rumah, ntar tetangga curiga “ kata via berceramah

“ kita nggak ngapa-ngapain kali vi, gini deh biar lo gatakut sebelum kerumah gue kita lapor dulu ke pak rt dan tetangga kalo lo bedua Cuma sahabat gue. Jadi biar ga dituduh macem-macem “ usul rio, via tampak berfikir

“ boleh deh boleh, gue izin ke nyokap dulu boleh atau engga “ seru sivia semangat. Agni berdiri lalu ia mengambil bola basket rio

“ yo basket yuk, lagi pengen banget nih main ‘ kata agni sambil berjalan menuju halaman belakang rumah rio

“ boleh deh, yuk vi lo ikutan “ kata rio yang disetujui via. mereka bertiga yang memang mempunyai beberapa hobi yang sama salah satunya adalah basket pun mulai berebutan siapa yang paling banyak mencetak skor. Ya walaupun via tidak sehebat rio dan agni yang penting ia bisa dan senang bermain basket bersama kedua sahabatnya. “ eh istirahat dulu deh, itu udah dibuatin minum sama mbak sum “ kata rio menyudahi permainan mereka, agni dan via yang juga merasakan capek pun mengikuti rio berjalan menuju ruang santai. Saat mereka sedang minum tiba-tiba rio nyeletuk “ eh vi gabriel juga jago basket, dia kapten basket tahun lalu. Tahun ini dia mengundurkan diri karna dia menjabat sebagai ketuo osis”. Via hanya mendengus kenapa harus ngomongin gabriel, kenapa dia harus tau kalau gabriel jago basket emang itu urusan dia? Pikir via dalam hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s