Catatan si putih

Posted: Maret 12, 2011 in cerpen

Dia terbatas.

Dia hanya tau tentang saling menyayangi, tanpa pernah mengerti selubung misteri yang menutup rupa asli bumi.

Dia hanya butuh sebentuk hati untuk menjalani hidup, lantas akan selalu tersenyum tulus.

Tak peduli busur-busur jahanam telah mengintai tepat kearahnya.

Dia sederhana. Sesederhana kasih sayang seorang kakak pada adiknya.

***

Minggu, 27 Februari 2011

Seorang gadis menunduk dalam-dalam. Rambutnya yang panjang bergelombang terjuntai menutupi wajahnya yang kian tirus. Tak jelas apa yang menarik dibawah sana, tapi sepertinya gadis ini sangat betah memaku pandangannya pada tanah kemerahan yang becek setelah berbaur dengan air hujan. Renda-renda berwarna senada vanilla yang menghiasa ujung-ujung gaun hitamnya sudah dipenuhi bercak-bercak kecoklatan dari lumpur yang bercipratan saat kaki kecilnya melangkah kemari tadi. Ia memang tidak sendiri di tempat menyedihkan ini, tapi ketahuilah, saat ini apapun dan siapapun akan jadi tak kasat mata untuk gadis dengan bola mata indah ini. Gadis tadi tersenyum samar, berusaha menyarukan sedih yang merangkulnya sejak lama. Ini akhirnya. Ini doanya, untuk segera tau nasib orang yang disayanginya. Lantas, kenapa ia harus menangis ?

Seorang pemuda disisinya hanya bisa berdoa dalam hati, “Kuatkan dia, Tuhan…”

***

Kamis, 21 Oktober 2010

Ini catatanku. Catatan Si Putih. Catatan kecil tentang sebuah kekuatan. Kekuatan besar yang berawal dari sepercik rasa sederhana yang telah jadi hal langka dalam opera panjang bernama kehidupan ini.

Tidak, ini tidak serumit kisah-kisah cinta klasik atau sesukar kata-kata sayang yang kadang tersimpul membentuk jerat yang mencekik tanpa ampun. Kisah dalam catatan ini tidak berinti seberat itu. Hanya bercerita tentang sesuatu yang simpel tapi bermakna, sesuatu yang akan mempertegas segala rupa yang samar, yang akan melapangkan setiap sisi yang sempit, yang akan menguatkan setiap insan yang rapuh, serta yang akan memudahkan setiap jalan yang kadang terasa sulit.

Sesuatu yang sederhana itu, adalah…

panji-panji ketulusan.

Aku ingin membagi catatanku, sebuah cerita tentang dua anak manusia yang menyelami arti dan makna ketulusan dengan sangat benar dan sempurna…

***

Jum’at, 22 Oktober 2010

Aku tengah mengepakkan kedua sayapku yang lembab disentuh rintik hujan. Seperti biasa, bulan Oktober. Hujan sudah mulai berkeracak tiada henti. Tuhan memang sangat menganak-emaskan sang air, setiap kali musim penghujan tiba. Sehingga tidak aneh, kalau disetiap titik yang ku dapati hanya air, air dan air. Ah, kemana sih Si Matahari ? Kenapa ia lebih memilih bersembunyi dibalik dekapan awan, sementara penduduk bumi merindukan kehadirannya.

Pagi ini kupaksakan untuk terbang. Sayap-sayapku bisa lumpuh kalau selama beberapa bulan harus berdiam, tanpa ku kepakan. Gerimis masih terus bersenandung, membuat sang kodok penghuni danau kecil ditaman ini bersorak riang. Ya, aku memilih taman kecil ini sebagai tempat menghabiskan pagi yang sangat dingin ini. Biasanya, setiap aku mengunjungi tempat ini barisan bunga tapak dara dan asoka akan berayun kompak seperti memberi ucapan selamat datang. Menurutku, taman ini juga memiliki rumput paling sempurna, hijau cerah dan segar. Tapi nampaknya hujan telah banyak merubah tempat ini, sekarang yang ada hanya genangan-genangan air dan guguran dedaunan.

Tapi ada satu yang tidak berubah. Gadis itu. Gadis manis dengan slayer putih yang membelit tangan kirinya. Gadis itu tetap pada kebiasaannya, menggambar ditaman ini. Tak peduli pada rinai air yang kian gencar mendera tubuhnya, tangan gadis berambut panjang itu tetap luwes menari diatas buku gambar ukuran A4nya. Disisi kanannya, seorang pemuda berusia sekitar 16 tahun dengan kaos hijau lumut, tengah menggerutu kesal, entah karena apa.

Oya, karena ada pepatah tak kenal maka tak sayang, maka kenalkan aku Putih, Si Putih. Aku seekor merpati. Karena buluku putih senada salju, jadilah kunamai diriku sendiri dengan julukan Si Putih. Hehe..

“Bosan.. Bosan.. Bosaaaan.” teriak pemuda tadi, seraya menghentak-hentakkan kakinya.

Merasa belum cukup, pemuda tadi melempar tempat pensil Si Gadis. Tindakan semacam itu benar-benar tidak layak dilakukan pemuda seusianya.

Gadis tadi hanya tersenyum sabar, lalu memunguti isi tempat pensilnya yang berserakan.

Mmh, pemuda itu memang sedikit berbeda dengan yang lain. Dia idiot. Ah, bukan-bukan, rasanya itu terlalu kasar. Terbelakang. Ya pemuda dengan kulit sawo matang itu terbelakang.

Duh, kok rasanya, kata terbelakang tidak jauh lebih baiknya dari idiot.

Ya, intinya dia berbeda. Dia terbatas.

“Kak Rio sabar dong, Acha sebentar lagi selesai kok.” hibur gadis yang akrab disapa Acha tadi, sebelum ia kembali menekuni gambarnya.

Seperti mengabaikan kata-kata Acha, pemuda berambut acak dengan poni sedikit melewati alis, yang dipanggil Rio tadi, malah berdiri.

“Ehh.” Acha mendongak saat merasakan bayangan jangkung tubuh Rio, menghalau cahaya yang jatuh diatas buku gambarnya, membuat permukaan putih itu, menggelap. Di dapati kakak tercintanya, tengah berdiri dengan kedua tangan bertaut diatas kepala Acha.

“Kakak ngapain ?” tanya Acha heran.

“Jagain kamu, dari hujan. Biar gak sakit.” jawab Rio, polos.

“Acha gak akan sakit, air hujan doang sih, kecil.” Acha menjentikka ibu jari dan kelingkingnya.

Diraihnya lengan-lengan kokoh Rio, dibimbing agar turun, lalu Acha mengedipkan sebelah matanya, “Achanya Kak Rio kan kuat.” lanjutnya, yakin.

“Aku benci hujan.” kata Rio setelah kembali duduk manis disamping Acha. Dua buah kursi dan satu meja bundar yang ada ditaman ini, sepertinya sudah mereka kontrak dan akan selalu jadi tempat favorit keduanya setiap kali mengunjungi taman komplek ini.

“Kenapa emangnya ?” tanya Acha, lembut, tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku gambar.

“karena menurutku setiap kali hujan turun, pasti ada seseorang yang sedang sedih dan menangis.”

Acha tertawa kecil, “Masa sih kak ?”

“Iya, buktinya aku sering liat kamu nangis kalau liat hujan.”

Acha menghentikan aktivitasnya. Jadi kakaknya sering melihatnya menangis ??

Acha melirik Rio, sekilas. Pemuda itu tengah asik memainkan genangan air dengan ujung-ujung kaki yang dibiarkan tak beralas.

“Setiap hujan turun, Acha gak sedih kok, Aku cuma kangen sama Ayah dan Bunda. Kak Rio kangen gak sama mereka ?”

Rio hanya menggangguk, pelan.

“Itu gambar apa ?” tanya Rio setelah menilik buku gambar yang sedari tadi menyita adik semata wayangnya itu.

“Istana diatas awan.” jawab Acha, singkat.

“Bagus.” puji Rio, “Kasih Tuhan aja. Minta buatin yang seperti itu untuk tempat tinggal Ayah dan Bunda diatas awan.” saran Rio.

Setelah kalimat tidak masuk akal yang Rio ucapkan, keduanya tidak bicara apa-apa lagi untuk beberapa saat. Keduanya terdiam.

“Kalau itu apa ?” Rio menunjuk kearahku yang bertengger di salah satu batang pohon Kiara.

“Itu Merpati kak.”

“Merprati ?”

“Mer-pa-ti.”

“meraptri ??”

Acha menggeleng, “Bukan kak Rio. Itu mer-pa-ti.”

“Mer-pa-ti. Merpati ?”

“Yapp. Merpati.” Acha mengacungkan kedua jempolnya.

“Hehehe, namanya susah ya.” Rio terkekeh lucu.

Kalian tau ? Aku selalu kagum pada kakak beradik ini. Si adik yang begitu menyayangi kakaknya, bagaimanapun kondisi kakaknya. Dan si kakak, yang dengan segala keterbatasannya, masih tetap berusaha menjaga adik kecilnya. Berbeda sekali dengan kebanyakan orang diluar sana, yang bahkan tega menciderai saudaranya hanya karena hal-hal sepele.

Banyak orang yang mengecilkan, memandang sebelah mata sosok-sosok tak sempurna seperti Rio. Padahal belum tentu, dimata Tuhan derajatnya lebih tinggi daripada orang yang dihinakannya. Menurutku, justru orang-orang seperti Rio jauh lebih tulus, ia hidup bukan untuk pujian, bukan untuk segala hal yang berbau duniawi. Baginya selama masih ada orang yang disayangi dan menyayanginya itu sudah cukup. Dan pada hakekatnya, bukankah itu makna sejati dari kehidupan. Saling mengasihi dan menyayangi. Bagi Rio cukuplah Acha sebagai dunianya. Saat Acha tersenyum, itu berarti dunia juga tersenyum untuknya. Sesederhana itu.

“Nah, selessaaiii…” seru Acha bangga, “Ini buat kak Rio.” Acha menyodorkan gambar yang baru saja diselesaikannya. Sebuah gambar dengan dominasi warna hitam dan putih, melukiskan sebuah istana megah yang mencuat dari balik gumulan-gumulan awan. Indah, sangat terkesan nyata.

“Buat aku lagi ? Kenapa bukan kamu yang simpen. Ini kan gambar kamu.”

“gak pa-pa, ini buat kak Rio. Kalau gak mau dibuang aja.”

“Setelah aku bosen nungguin kamu ngegambar, udah jadi trus dibuang gambarnya ? Apa ada hal lain yang lebih bodoh yang bisa kamu sarankan ?”

“Hehehe. Makanya kakak simpen ya.”

Rio akhirnya mengangguk, ditelusuri gambar itu dengan kelima jarinya, “Aku mau belikin kamu pensil warna. Punya kamu udah kecil terus cuma tinggal warna hitam sama putih aja. Tapi aku gak ada uangnya.” celetuk Rio, tampak sangat menyesal.

Acha pasti menjerit pilu dalam hati, mendengar kata-kata Rio. Di pandangi lekuk-lekuk sempurna wajah kakak tersayangnya itu. Betapa gurat-gurat tegas dan bijaksana itu masih ada, sorot cerdas dan tenang itu masih tersisa, garis-garis ketampanan pun masih terpancar jelas. Rio…

kenapa takdir begitu seenaknya saja memutar balikkan nasib seseorang??

Rio, pemuda ini adalah satu-satunya anggota keluarga inti yang Acha punya, setelah kepergian kedua orang tuanya. Rio dan Acha sebenarnya bukan lahir dari kalangan keluarga tidak mampu. Orang tua mereka meninggalkan warisan yang lebih dari cukup untuk biaya hidup mereka hingga dewasa. Tapi sayangnya paman mereka, adik dari sang Ayah yang dipercaya menjadi wali mereka sekaligus mengelola seluruh aset kekayaan keluarga Rio dan Acha, tidak bertanggung jawab. Perusahan Ayah mereka belakangan mengalami kemunduran drastis, hutang bertumpuk, klien banyak yang pergi, bahkan rumah mewah yang Rio dan Acha tempati sekarang akan disita oleh bank kalau paman mereka tidak segera melunasi hutang-hutangnya.

Keadaan Rio saat ini, juga dikarenakan perlakuan paman mereka yang kerap memukuli Rio dengan kalap. Tidak manusiawi. Dari sapu, sabuk, bahkan Rio pernah dilempar sebuah vas cantik dari keramik tepat mengenai kepalanya. Tidak akan ada yang menyangka kalau Rio ini adalah ketua OSIS dan termasuk the most wanted boy di SMAnya, dulu ketika masih bersekolah. Benturan dikepalanya yang menciderai organ krusial tubuh rio, yaitu otaknya, hampir setahun yang lalu, membuat Rio jadi seperti ini sekarang. Kini untuk mengucapkan beberapa kata saja Rio terdengar kaku. Perbendaharaan katanya bahkan tidak lebih banyak dari anak kelas 5 SD.

“Kenapa aku gak kayak yang lain ? Aku udah besar tapi cuma bisa ngerepotin kamu.” tutur Rio, masih dengan kosakata tak beraturan khasnya.

“Kakak, sama sekali gak ngerepotin Acha. Kakak gak perlu kayak orang lain, karena Acha sayangnya sama Kak Rio yang ini, yang ada didepan Acha, sekarang.” balas Acha lembut, bukan hanya bibirnya, sorot matanya juga ikut berbicara tentang ketulusan hatinya.

“Acha…”

“Ya ?”

“aku mau digambarin bunga krisan sama kamu.”

“Bunga Krisan ? Emang kayak apa bentuknya, kak Rio udah pernah liat bunga Krisan ?”

Rio mengangguk.

“Oya ? Dimana ? Acha belum pernah liat.”

Rio menggeleng, “Gak inget, dimana.” jawabnya singkat.

Acha hanya tersenyum, faham betul bagaimana ingatan kakaknya itu, “Ya udah nanti kalau Acha udah liat kayak apa bunga Krisan itu, Acha bakal gambarin buat kakak.” janji Acha.

Rio mengangguk antusias, matanya yang polos kini berbinar senang.

Krisan. Queen of the east. Lambang ketulusan.

Tulus… Sama seperti Rio. Dia tulus.

***

Minggu, 24 Oktober 2010

Eerrr, hujan lagi-hujan lagi. Huh. Begini nih, kalau hidup didaerah tropis. Musim penghujannya berlangsung lebih lama, setengah tahun. Rasanya sayap-sayapku sudah mulai kelu dan beku. Lama sekali, aku tidak terbang jauh.

Beruntung, kali ini aku tidak perlu repot-repot mencari tempat berteduh dari bengisnya air langit. Rio membuka jendela kamarnya, dan karena dia terlihat sangat sibuk dengan lamunannya, aku rasa tidak perlu meminta izin dulu untuk sekedar berteduh sebentar dikusen-kusen dari kayu jati itu. Ku kepak-kepakkam kedua sayapku untuk merontokan titik-titik air yang bersembunyi dibalik bulu-buluku.

PRAANG

Dari luar terdengar bunyi suatu benda yang sepertinya telah pecah.

“Jangan. Jangan. Aku takut. Aku takut. Aku takut.”

Aku menoleh saat mendengar jerit ketakutan itu.

Rio. Dia meringkuk disalah satu ujung ranjangnya, kedua tangannya menutup rapat telinganya, wajah Rio memucat. Jelas, ia sangat ketakutan.

Aku terbang ke meja disisi dekat tempat tidur Rio. Berharap saat melihatku Rio tidak akan merasa sendiri dan ketakutan seperti itu lagi. Dari tempatku, aku baru bisa melihat, ada beberapa kertas yang berserkan diatas ranjang berseprai coklat muda itu.

Gambar bernuansa hitam putih. Ya, pasti gambar-gambar buatan Acha, siapa lagi ??

Aku menjulurkan leherku, melongok salah satu gambar yang paling terjangkau penglihatanku. Gambar yang terlihat, adalah gambar seorang pemuda tampan dengan sepasang sayap menyembul dari balik punggungnya.

Oh, iya, iya. Aku ingat gambar itu. Kalau tidak salah gambar itu diberikan Acha pada Rio, seminggu setelah kedua orang tua mereka meninggal.

“kak Rio sekarang adalah malaikat penjaga buat Acha. Acha gak punya siapa-siapa lagi selain kakak. Janji ya, kakak jangan pernah tinggalin Acha.”

Seingatku, itulah kalimat yang diucapkan Acha saat memberikan gambar itu. Pada waktu itu, dengan dewasa Rio masih bisa mengayomi adiknya dengan kata-kata bijak dan menenangkan.

Gambar selanjutnya yang bisa aku lihat adalah gambar sebuah padang bunga matahari lengkap dengan sang surya yang terkesan berpendar angkuh disisi kanannya. Meski bukan dipulas dengan warna kuning menyala, tapi gambar itu tetap terkesan hidup. Malah terkesan lebih dramatis dan sendu.

“Bunga matahari akan selalu tumbuh mengikuti arah datangnya cahaya matahari. Begitu pula Acha. Kakak mataharinya Acha, dan Acha akan selalu jadiin kakak panutan, gimanapun keadaan kakak. Kakak tetep kakak nomor satu sedunia.”

makna itulah yang coba Acha siratkan dalam gambarnya, gambar sang surya dan padang bunga matahari.

Dan masih banyak lagi gambar-gambar yang lain. Tetap dengan nuansa hitam putih yang sepertinya menjadi ciri khas Acha. Menurutku gadis itu memiliki jemari ajaib yang bisa menyeret setiap orang dalam dimensi lain melalui gambar-

gambarnya. Gadis itu bisa bercerita tentang segala hal hanya dengan goresan pensil serta pulasan warna dalam selembar kertas.

“RIO…ACHA..” teriakan itu memekak telinga, terdengar lantang dan liar, disusul bunyi-bunyi rusuh yang sepertinya berasal dari barang-barang yang dilempar.

“Jangan bentak. Jangan bentak. Takut. Jangan bentak, aku takut.” Rio kembali merancau. Kini seluruh tubuhnya terlihat dibanjiri keringat. Wajahnya pucat pasi.

BRAK

Pintu dibuka dengan kasar, seorang gadis segera menghambur kedalam, lantas memeluk Rio, setelah mengunci pintu kamar dari kayu Aras berplitur mengkilap disisi kanan ruangan ini.

“Kakak, Om datang kak. Acha mesti gimana, Acha takut, Kak.” keluh gadis itu, rautnya tak kalah tegang dari Rio.

Rio mengelus rambut panjang Acha dengan penuh kasih sayang. Ia lalu berbisik, “Berjanjilah !!”

Acha melepas pelukannya, keningnya berkerut.

“Untuk ?”

“Aku akan keluar. Kamu pergi, lari yang jauh. Jangan pernah kembali, jangan pernah tengok kebelakang.”

“terus kak Rio gimana ? Aku mau sama kakak.”

“Aku menyusul.”

“Nggak.” Acha menggeleng mantap, “Acha mau sama kak Rio. Ayo kak kita lari sama-sama. Aku gak mungkin ninggalin kakak.”

“RIO…ACHA..” suara keras sang paman kembali menggelegar, sekarang malah bertambah suara ribut-ribut dari beberapa orang. Sepertinya sang paman tidak sendiri.

“Ayo cepet lari”

“Nggak kak. Jangan paksa Acha, Acha gak mau.”

“Aku gak mau kamu dijual. Aku gak mau. Ayo lari. Aku mohon.”

“kak Rio, Acha gak mauu. Acha gak mau kak.”

Acha menangis tersedu. Air matanya terurai kesana-kemari, rata terpeta di seluruh wajahnya. Rambut ikalnya sebagian menempel pada pipi gembilnya dan sebagian lagi berayun luwes seirama gelengan kepalanya.

“Jangan nangis. Aku mohon pergilah. Aku akan menyusul, aku janji.” pinta Rio, sungguh-sungguh.

“tapi Kak…”

“Kalau kamu tertangkap, kamu gak akan bisa buatin aku gambar bunga Krisan, kamu udah janji mau buatin.”

“Kak..”

Rio segera mengacungkan jari kelingkingnya, menuntut Acha untuk berjanji.

“nana..nana..nanananana..nanananana..nanana..nanaaa” Rio melagukan sebuah nada tanpa syair sambil tersenyum tulus. Menurut Rio nada itu bisa mengusir rasa sedih dan takut.

Acha tidak langsung menautkan kelingkingnya, ia mengikatkan slayer putih yang biasa di gunakannya. Membentuk sebuah simpul pada pergelangan tangan kanan Rio yang masih tergantung diudara.

Acha menghapus air matanya, “tapi kakak juga harus janji ya, kakak bakal nyusul Acha.” tuntut Acha.

“Janji.” balas Rio mantap.

Keduanya menautkan jari mereka yang sama-sama terlihat putih memucat.

Perlahan keduanya keluar, lalu berpisah di pintu dapur. Rio menuju ruang tamu, sedangkan Acha mengendap-ngendap kearah pintu belakang.

Aku terus mengikuti pergerakan mereka, dari atas pohon jambu tempatku bertengger sekarang.

Aku bisa menangkap sosok Rio seorang diri, berdiri tegap didepan pamannya yang terlihat jelas sangat marah dan murka.

“DIMANA ADIKMU ?” tanyanya dengan nada tinggi.

Rio diam. Manik matanya, menatap tajam pada coklat gelap milik adik sang Ayah.

“TULI YA KAMU ? DIMANA ACHA ?” bentaknya lagi.

Rio mempertahankan diamnya. Tak kuasa menahan amarah, sang paman melayangkan tinjunya ke perut Rio.

“JAWAB IDIOT. DIMANA ADIKMU, SURUH DIA KEMARI.” makinya, sambil melayangkan tinjunya yang kedua. Tubuh kurus Rio terhempas jatuh, membentur sofa di sisinya.

Sang paman, hari ini berniat menjual Acha pada seorang germo sekaligus bandar narkoba kelas kakap, buronan nomer wahid kepolisian Indonesia. Acha yang berparas cantik dengan lekuk tubuh sempurna sepertinya akan dijadikan ‘perempuan tidak baik’. Tapi sebelum rencana penjualan Acha untuk melunasi hutang terlaksana, Rio dan Acha sudah lebih dulu mengetahuinya. Mereka tidak sengaja menguping pembicaraan pamannya dengan seseorang di telepon, tempo hari.

“JAWAB BODOH. DIMANA ACHA. JANGAN MEMBUATKU MARAH.”

BUGG

kaki kanan sang paman ikut beraksi, kaki besar itu menendang Rio yang meringkuk lemas dilantai.

Aku bisa melihat sekilas pemuda menganggumkan itu tersenyum tulus pada seorang gadis yang tengah menangis dibalik pintu dapur tak jauh dari situ.

“nana..nana..nanananana..nanananana..nanananana..” Rio kembali bersenandung lirih. Senandung tanpa syair yang sering ia lantunkan untuk Acha, “Lari adik manis..” ucapnya, pelan.

Acha mengangguk meski ragu. Ia segera mengambil ancang-ancang untuk lari, tapi sialnya salah satu dari tiga orang berpakaian serba hitam, yang entah siapa itu, memergokinya.

Orang itu dengan cepat menarik kerah baju Rio, memaksanya berdiri.

“HEH KAMU !! Jangan lari kamu. Kalau kamu lari, orang ini akan saya tembak.” ancam orang itu.

Acha tersentak, ia menghentikan langkahnya.

“Ayo lari. Kamu udah janji.” seru Rio dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.

“DIAM KAMU.” sentak orang yang sama, seraya memukulkan pistolnya ke pelipis Rio.

“Aaargh.” Rio mengerang, darah segar menetes dari dahinya.

“Kak..”

“Lari ayo, lari.”

“Diam disitu atau dia akan mati. Kamu seret dia kemari.” perintah orang tadi pada rekannya.

“Aku sayang Acha. Ayo Acha pergi. Jangan kecewakan aku.” lirih Rio setengah putus asa mendapati Acha yang masih bertahan ditempatnya.

“kak Rio akan menyusulmu Cha. Dia sudah janji. Ayo lari, Cha.” bisik hatinya.

Acha pun mengangguk mantap, ditariknya nafas dalam-dalam. Mengumpulkan tenaga untuk lari secepat mungkin, nantinya. Pada saat otak serta hatinya mengkomandoi agar kedua kakinya segera lari, tanpa ragu Achapun langsung berlari.

Ia terus berlari, sambil menghalau segala fikiran buruk dan rasa takut dalam benaknya.

“Ayo lari, Raissa. Lari.” tekadnya dalam hati.

“AKU SAYANG KAMU, CHA..” hanya teriakan itulah yang Acha dengar, saat ia telah melewati gerbang menjulang didepan rumahnya.

DOORR

CETTARR..

Petir, kilat dan suara asing itu melumpahkan seluruh daya yang Acha punya. Mencekat nafasnya, membekukan aliran darahnya. Hingga gadis ini sempat berfikir, bahwa kematian akan terasa lebih menggembirakan untuknya.

Suara asing itu..

Apa ? Tembakankah ? Lalu, lalu, siapa yang ditembak ? Riokah ?

Aku yang sedari tadi mengikuti Acha berlari, tentu juga bertanya-tanya. Apa yang terjadi didalam rumah mewah itu ? Bagaimana nasib Rio ?

Aku yakin, saat ini Acha pasti sangat ingin kembali.

Tapi ribuan jempol untuk gadis cantik ini, saat ku lihat kaki-kaki jenjangnya terus berlari. Air matanya membaur dengan air hujan, seakan ingin menunjukan, mana yang lebih deras. Tanpa alas kaki, diselusuri jalanan beraspal didepannya. Acha pasti merasakan dingin yang luar biasa, dan parahnya sekarang ia sendiri. Seorang diri.

“Kak Rio bilang jangan berbalik. Jangan kembali. Kak Rio akan menyusul. Terus lari Cha.” aku bisa mendengar Acha mengeja kalimat-kalimat itu secara terus-menerus. Kasihan Acha.

Siapapun bisa berkorban untuk orang yang dicintainya. Berkorban tidak membutuhkan keahlian khusus. Hanya butuh sedikit ketulusan.

***

Satu hari sebelum dirimu pergi

kau berikan segela yang kau punyai

jika saja ku tau engkau kan pergi…

Indah kau jalani hidup

tapi ku mengerti, sampai disini

engkau kan menjadi bintang

dipelukan malam yang memelukku dan menjagaku

Satu hari sebelum dirimu pergi

kau padamkan letihku dengan pelukan

jika saja ku tau engkau akan pergi

sisa waktu, ku habiskan merawatmu.

***

Minggu, 27 Februari 2011

Gadis bergaun hitam dengan renda-renda senada vanila tadi masih terpekur dalam diamnya. Sedih pastinya. Tapi dia tidak menangis, barangkali air matanya sudah terkuras habis tak bersisa. Acha. Ia terus mengelus-elus marmer putih yang menjadi nisan untuk makam sang kakak. Seorang kakak yang rela telah mengorbankan nyawanya, demi supaya Acha bisa hidup dalam kehormatan.

Teriakan terakhir kakaknya masih terus bergaung dalam ruang dengarnya, “Aku sayang kamu, Cha.”

Astaga, hanya orang tolol saja yang tidak tau betapa besar rasa sayang kakaknya terhadap Acha.

“Kenapa kakak tinggalin Acha. Acha sendirian kak, Acha takut.”

Setelah empat bulan berselang, Acha baru berani kembali kerumahnya ditemani Ozy. Rumah itu ternyata sudah disegel oleh bank. Tapi Acha berhasil memperoleh informasi yang ia inginkan, nasib kakaknya ?

Dan inilah. Pemakaman inilah yang ditunjukkan penduduk setempat saat Acha menanyakan perilah Rio. Disinilah, kakak kebanggaannya tertidur tenang. Tanpa iringan doa ataupun taburan bunga dari Acha, selama 4 bulan. Ia berpulang, sebelum sempat berpamitan dengan Acha. Sebelum Acha sempat mengucapkan trimakasih atas pengorbanannya.

“Kakak udah janji mau nyusul Acha.”

“Udah dong Cha, Rio bertaruh nyawa buat kamu supaya kamu bahagia. Dia pasti sedih kalau liat kamu gak bisa relain kepergiannya. Hujan-hujan Rio dateng kerumahku, dia minta supaya aku jemput kamu hari itu. Hari dimana, Rio nyuruh kamu lari. Dan liat Cha, sekarang kamu selamat dari rencana busuk Om mu, Rio pasti senang, dan dia akan jauh lebih senang kalau kamunya yang kuat, yang tegar, terus semangat jalanin hidup kamu. Jangan buat pengorbanan Rio sia-sia.” pemuda yang sedari tadi berjongkok disisi Acha, mulai angkat bicara.

Namanya Ozy, dia adalah satu-satunya sahabat Rio yang masih mau peduli pada Rio dan Acha setelah keadaan Rio berubah.

“Rio kakak yang hebat, semua tau itu. Sampai kapanpun gak akan ada yang bisa gantiin dia, termasuk aku. Tapi Cha, aku harap seenggaknya aku bisa gantiin tugas Rio buat jagain kamu. Aku bakal selalu ada dan akan selalu jagain Acha.” tutur Ozy, sungguh-sungguh.

Acha melirik sekilas pemuda manis yang dengan murah hati, telah mau menolongnya dihari pelariannya. Dan telah bersedia menampung Acha di panti asuhan milik bundanya selama 4 bulan terakhir ini. Pemuda itu memang benar-benar perhatian dan sangat baik pada Acha. Menurut penglihatanku, sepertinya Ozy menyimpan perasaan yang lebih pada Acha.

“makasih ya kak Ozy. Maafin Acha, Acha selalu ngerepotin kakak.” Acha melempar senyum manisnya kearah Ozy.

Pemuda itu terlihat lega, mendapati senyum Acha kembali tersungging di wajah ayunya.

Ozy mengangguk pelan. Dengan lembut disekanya buliran-buliran air mata dipipi Acha.

Acha kembali mengalihkan pandangannya ke makam Rio, “Kak Rio, Acha kangen.” lirihnya.

“Mmh, ini buat kakak. Gambar bunga krisan yang dulu Acha janjiin. Maaf ya, Acha baru bisa kasih ini sekarang. Tapi Acha harap, malaikat-malaikat Tuhan mau turun sebentar ke bumi dan ngambil gambar ini buat kakak. Supaya kakak bisa liat gambar Acha. Acha bakal berusaha ikhlasin kakak, Acha gak mau kecewain kakak. Acha sayang banget sama kak Rio. Salam buat ayah sama bunda ya.” Acha mengecup nisan dengan ukiran nama ‘Mario Haling’ berikut hari jadi dan tanggal wafatnya, yang ada didepan Acha.

“nana..nana..nanananana..nanananana..nananananaa..” Acha melantunkan senandung itu lagi. Senandung kecil favorit Rio, yang sebetulnya, syairnya sudah berulang kali Acha ajarkan pada Rio. Tapi Rio tetap kesulitan untuk mengingatnya, “Cangkul..cangkul..cangkul yang dalam. Menanam jagung..dikebun kita. Semoga sekarang kakak bisa inget ya syair lagu itu.” tambah Acha.

Perlahan ia bangkit, lantas membenahi roknya yang sedikit kusut.

“Mau pulang sekarang ?” tanya Ozy yang turut bangkit.

Acha mengangguk, yakin, “aku harus secepatnya menata hidupku kan kak? Disini lama-lama, cuma bakal buang-buang waktu. Yang penting aku akan selalu doain kak Rio.” jawab Acha, lebih bijak.

“Bagus, kalau gitu.” timpal Ozy.

Keduanya lalu berjalan menyusuri barisan-barisan nisan di komplek pemakaman umum ini. Aku masih memandangi mereka dengan rasa haru bercampur bangga.

Inilah potret asli kehidupan. Tidak ada pangeran tampan kaya raya yang kemudian menikah dengan putri cantik dari negara tetangga, lantas hidup bahagia selamanya. Sekali lagi ini bukan negeri dongeng. Ada kalanya kita dipaksa menangis, lalu disuruh bangkit kemudian dititah untuk terus berjalan.

***

Kasih dan sayang…

Adalah dua nada yang saat ia mulai bernyanyi, seharusnya semua akan terasa lebih mudah dan indah.

Cinta…

Adalah milik mereka, orang-orang yang mau menerima kekurangan dan dengan tulus bersedia untuk menyempurnakannya.

Ya, jika ada yang mau belajar tentang kasih sayang dan cinta yang sempurna..

Maka terlebih dulu, belajarlah tentang ketulusan dengan sebenar-benarnya.

***

Senin, 28 Februari 2011

‘akhir…’

Rio.

Manusia…

kalian tau dia terbatas.

Lantas tak malukah kalian kepadanya ? Dia yang dengan jahat sering kalian anggap idiot, mampu menyibak tabir seluas langit yang sering menyarukan cara pandang manusia tentang cinta dan kasih sayang. Hawa, yang bernama cinta bukan berarti menyerahkan harga diri dan kehormatan kalian.

Adam, yang namanya sayang tidak bisa diuji lewat ciuman. Itu dangkal.

Lihat pengorbanan Rio. Itulah sejatinya cinta dan sayang.

Rio bisa membuktikan bahwa hidup

sesederhana pergantian siang dan malam. Mengalir begitu saja. Tanpa harus diskenario dulu. Tanpa harus diatur dulu. Tidak rumit, karena sebetulnya manusia sendirilah yang membuatnya rumit.

Rio.

Manusia..

Kalian tau dia terbatas.

Lantas tak malukah kalian kepadanya ??

Mencibirnya, mengabaikan kehadirannya. Padahal dari orang-orang sepertinyalah, Tuhan mengajarkan kita tentang ketulusan hakiki. Ia menangis saat ia sedih, ia tertawa saat bahagia, ia menjerit saat tersakiti, tidak perlu topeng, tidak perlu kepura-puraan, tidak perlu sekat dengan tirai-tirai kemunafikan. Hidup Rio lurus, jauh dari kebohongan.

Manusia..

Aku catat jalan hidup dua anak manusia ini untuk kalian jadikan pelajaran. Untuk bahan renungan.

Kadang Tuhan menyimpan mutiara dibalik pekatnya lumpur. Tuhan kadang menyertakan aroma melati dibalik busuk barak sampah.

Jangan belajar meremehkan, jangan terbiasa menghina dan mencela.

Jangan menyarukan kejahatan dengan mengatasnamakan cinta.

Jangan melancarkan kemungkaran dengan kasih sayang kau jadikan tamengnya.

Itu pesanku…

Akhirnya, ku sudahi catatan ini dengan bait dan lantunan doa untuk Rio.

Semoga dunia ini masih cukup layak untuk disinggahi orang-orang berhati malaikat sepertinya.

Salam sayang,

Putih.

The End

karya : Novia Raissavia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s